PusakaIlahi.com
Bacaan: Markus 14:12–21
Setahun: Hakim-hakim 19–21
Ada satu kesalahan paling berbahaya dalam kehidupan rohani—bukan dosa itu sendiri, tetapi merasa diri tidak mungkin jatuh ke dalam dosa.
Kalimat sederhana para murid, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Markus 14:19), justru menunjukkan kedewasaan rohani. Mereka tidak menunjuk orang lain. Mereka tidak merasa paling benar. Mereka sadar—di dalam diri mereka ada potensi untuk gagal.
Namun di sisi lain, Petrus tampil berbeda.
Ia penuh keyakinan. Ia yakin dirinya tidak akan pernah menyangkal Yesus. Ia merasa imannya lebih kuat dari yang lain. Ia merasa dirinya “aman”.
Tapi justru di situlah titik kejatuhannya.
Dalam waktu singkat, Petrus menyangkal Yesus—bukan satu kali, tetapi tiga kali.
Bukan karena ia tidak mengasihi Tuhan.
Tetapi karena ia terlalu percaya diri pada dirinya sendiri.
Dan tanpa disadari, sikap ini banyak terjadi hari ini.
Banyak orang merasa:
- “Saya sudah lama melayani.”
- “Saya sudah kuat secara rohani.”
- “Saya tidak mungkin jatuh seperti mereka.”
Padahal Alkitab sudah memberi peringatan keras:
“Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12)
Masalahnya bukan pada kekuatan kita.
Masalahnya adalah ketika kita mulai mengandalkan kekuatan itu.
Hari ini, banyak “pengkhianatan” tidak terjadi secara dramatis seperti Yudas.
Tetapi terjadi secara perlahan:
Saat kita mulai kompromi dengan dosa.
Saat kita tahu kebenaran, tetapi memilih diam.
Saat kita lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan Tuhan.
Itulah bentuk pengkhianatan yang paling halus—dan paling berbahaya.
Kita mungkin tidak berkata, “Saya tidak kenal Yesus,” seperti Petrus.
Tetapi lewat sikap dan keputusan hidup, kita bisa saja melakukan hal yang sama.
Karena itu, sikap yang benar bukanlah percaya diri berlebihan.
Tetapi kerendahan hati yang terus bergantung pada Tuhan.
Bukan berkata, “Saya pasti kuat.”
Tetapi berkata, “Tuhan, tanpa Engkau saya pasti jatuh.”
Yesus tidak mencari orang yang merasa kuat.
Ia mencari orang yang sadar bahwa dirinya lemah—dan mau bergantung penuh kepada-Nya.
Hari ini, jangan merasa aman hanya karena posisi rohani.
Jangan merasa kebal hanya karena pengalaman pelayanan.
Tetap berjaga.
Tetap rendah hati.
Tetap melekat pada Tuhan.
Karena yang membuat kita bertahan bukanlah seberapa kuat kita—
tetapi seberapa dekat kita dengan Tuhan.
RENUNGAN KUNCI:
Orang yang merasa paling kuat sering kali paling dekat dengan kejatuhan.
Tetapi orang yang sadar dirinya lemah akan terus dijaga oleh Tuhan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI
