Pusakailahi.com Banyak orang berpikir bahwa orang beriman harus selalu terlihat kuat. Seolah-olah menangis adalah tanda kelemahan rohani, dan mengeluh dalam penderitaan berarti kurang percaya kepada Tuhan. Akibatnya, tidak sedikit orang Kristen hidup dalam tekanan batin: mereka berusaha terlihat tegar di luar, padahal di dalam hati sedang runtuh perlahan.
Kitab Ayub memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Ayub adalah seorang yang saleh, takut akan Tuhan, dan hidup benar di hadapan-Nya. Namun dalam waktu singkat ia kehilangan hampir segalanya: harta bendanya habis, anak-anaknya meninggal, tubuhnya dipenuhi penyakit, bahkan istrinya sendiri kehilangan pengharapan.
Di titik itu Ayub tidak mengutuki Tuhan, tetapi ia mengutuki hari kelahirannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa iman tidak menghapus sisi manusiawi seseorang. Ayub tetap percaya kepada Allah, tetapi ia juga manusia yang terluka, kecewa, dan lelah menghadapi penderitaan.
Di sinilah letak pentingnya pemahaman teologi yang benar. Kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya kebal terhadap penderitaan. Justru Alkitab berkali-kali menunjukkan bahwa orang benar pun dapat mengalami pergumulan yang berat. Penderitaan bukan selalu tanda hukuman Tuhan. Dalam kitab Ayub, penderitaan terjadi bukan karena Ayub lebih berdosa daripada orang lain, melainkan karena Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar daripada yang dapat dipahami manusia.
Namun ada satu hal yang mulai terlihat dalam pergumulan Ayub: ia perlahan menanggung semua bebannya sendiri. Ia tetap menghormati Tuhan, tetapi hatinya mulai terkurung oleh kesedihan dan kepedihan yang dipendam terlalu lama.
Karena itu Elifas berkata:
“Carilah Allah dan adukanlah perkaramu kepada-Nya.”
Walaupun tidak semua perkataan Elifas benar secara teologis, nasihat ini mengandung kebenaran penting. Tuhan tidak meminta manusia berpura-pura kuat. Tuhan mengundang manusia datang kepada-Nya dengan hati yang jujur.
Sayangnya, banyak orang lebih mudah menceritakan masalahnya kepada media sosial daripada kepada Tuhan. Ada yang sibuk mencari pelarian, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Allah. Padahal iman bukan sekadar mengetahui Tuhan ada, melainkan mempercayakan seluruh hidup ke dalam tangan-Nya.
Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam:
“Urip iku sawang-sinawang.”
Artinya: Hidup manusia hanya saling melihat tanpa benar-benar mengetahui beban masing-masing.
Kalimat ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki pergumulan tersembunyi. Karena itu manusia tidak dapat sepenuhnya menjadi sandaran hidup. Ada batas kekuatan manusia. Ada luka yang tidak dapat disembuhkan hanya dengan kata-kata penghiburan.
Hanya Tuhan yang sanggup memahami kedalaman hati manusia sepenuhnya.
Secara teologis, kitab Ayub juga mengajarkan tentang kedaulatan Allah. Tuhan tetap memegang kendali sekalipun hidup terlihat kacau. Iblis tidak dapat bertindak di luar batas yang Tuhan izinkan. Artinya, penderitaan Ayub tidak pernah berada di luar pengawasan Allah.
Ini memberi pengharapan besar bagi orang percaya. Saat hidup terasa gelap, Tuhan tidak kehilangan kendali. Ketika manusia merasa sendirian, Tuhan tetap bekerja meskipun sering kali dengan cara yang belum dimengerti.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat kuat:
“Gusti mboten sare.”
Artinya: Tuhan tidak pernah tidur.
Tuhan tidak pernah terlambat menolong. Tuhan juga tidak pernah meninggalkan umat-Nya di tengah badai kehidupan. Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan, tetapi Tuhan mengubah hati manusia agar mampu bertahan dalam keadaan itu.
Iman sejati bukan berarti tidak pernah menangis. Iman sejati adalah tetap datang kepada Tuhan bahkan ketika air mata terus jatuh. Percaya kepada Tuhan bukan berarti hidup selalu mudah, tetapi yakin bahwa kasih setia-Nya tetap ada dalam segala musim kehidupan.
Karena itu, jangan memendam pergumulan seorang diri. Jangan merasa harus selalu tampak kuat di depan semua orang. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Serahkan ketakutan, luka, dan kelelahan hidup kepada-Nya.
Sebab Tuhan tidak mencari manusia yang pura-pura sempurna. Tuhan mencari hati yang mau percaya dan bersandar penuh kepada-Nya.
Dan di tengah penderitaan sekalipun, Tuhan tetap sanggup mengubah air mata menjadi pengharapan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
