Bogor, 29 Maret 2026 — Di tengah khidmatnya Ibadah Syukur HUT ke-103 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) di GGP “Immanuel” Kota Bogor, sebuah momen tak terduga justru menjadi yang paling membekas.
Bukan bagian dari susunan acara resmi.
Tidak tertulis dalam rundown.
Namun justru itulah yang membuatnya berbeda.
Hari itu, Pdt. Semuel Benaja, S.T., M.Pd—Ketua MADA Jawa Barat sekaligus Gembala GGP Immanuel Bogor—genap berusia 44 tahun.
Tanpa pengumuman besar, tanpa seremoni khusus, suasana ibadah perlahan berubah.
Dari Khidmat Menjadi Hangat
Di tengah rangkaian ibadah, sebuah kue ulang tahun dihadirkan ke depan.
Sederhana, namun penuh makna.
Lilin dinyalakan.
Perhatian jemaat tertuju.
Senyum mulai merekah di berbagai sudut ruangan.
Dan saat lilin ditiup, suasana yang tadinya khidmat berubah menjadi hangat—seperti keluarga besar yang sedang merayakan bersama.
Doa yang Menjadi Inti
Momen ini mencapai puncaknya ketika Ketua Umum GGP, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, memimpin langsung doa.
Bukan sekadar ucapan selamat,
tetapi doa yang menguatkan pelayanan dan meneguhkan panggilan.
Ratusan jemaat yang hadir ikut menundukkan kepala, menghadirkan suasana yang tenang namun penuh makna.
Gembala yang Tetap Berdiri Melayani
Yang membuat momen ini terasa kuat bukan hanya perayaannya, tetapi sikap dari sosok yang dirayakan.
Di hari ulang tahunnya sendiri, Pdt. Semuel Benaja tidak menjadikan dirinya pusat perhatian.
Ia tetap melayani.
Tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai gembala.
Tanpa sorotan berlebihan, justru di situlah nilai itu terlihat.
Momen Sederhana yang Mengalahkan Segalanya
Di tengah perayaan besar gereja, justru momen sederhana ini yang paling diingat oleh banyak jemaat.
Bukan karena kemewahannya,
tetapi karena ketulusannya.
Di hari itu, di Bogor, bukan hanya sebuah ulang tahun yang dirayakan.
Tetapi terasa jelas bahwa GGP adalah keluarga besar yang hidup dalam kebersamaan, saling menguatkan, dan berjalan dalam satu kesatuan hati.
Jurnalis: Kefas Hervin Devananda


