Pusakailahi.com Banyak orang memahami Kenaikan Tuhan Yesus hanya sebatas peristiwa Yesus “naik ke langit.” Padahal bagi iman Kristen, kenaikan Kristus bukan sekadar penutup kisah pelayanan-Nya di dunia. Kenaikan Yesus adalah momen ketika surga menyatakan kepada dunia bahwa Yesus yang disalibkan itu adalah Raja yang hidup dan memerintah untuk selama-lamanya.
Salib bukan akhir. Kubur kosong bukan klimaks terakhir. Kebangkitan membuktikan Yesus menang atas maut, tetapi kenaikan-Nya menyatakan bahwa Ia dimuliakan dan berkuasa atas seluruh ciptaan.
Di zaman sekarang, manusia berlomba mengejar kekuasaan, jabatan, dan pengaruh. Banyak orang ingin “naik,” tetapi sering lupa bagaimana caranya hidup benar. Dunia mengajarkan bahwa kekuasaan adalah soal siapa paling kuat, paling kaya, dan paling terkenal.
Namun Yesus menunjukkan jalan yang berbeda.
Ia naik ke surga bukan karena merebut kuasa dengan kekerasan, melainkan setelah mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan manusia. Mahkota kemuliaan Kristus lahir dari kasih, pengorbanan, dan ketaatan kepada Bapa.
Inilah yang membuat kenaikan Yesus begitu agung secara teologis.
Kristus tidak naik sebagai tokoh biasa. Ia naik sebagai Tuhan yang telah menaklukkan dosa, maut, dan kuasa kegelapan. Karena itu kenaikan-Nya menjadi tanda bahwa tidak ada kuasa apa pun di dunia ini yang lebih tinggi daripada kuasa Kristus.
Artinya, dunia tidak berjalan tanpa arah. Sejarah manusia tidak bergerak secara kebetulan. Di tengah kekacauan dunia, perang, ketidakadilan, krisis moral, dan penderitaan manusia, Kristus tetap memegang kendali atas segala sesuatu.
Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam:
“Gusti mboten sare.”
Artinya: Tuhan tidak pernah tidur.
Kalimat sederhana ini menjadi penghiburan besar bagi orang percaya. Ketika manusia merasa dunia semakin gelap, Tuhan tetap bekerja. Ketika hidup terasa tidak adil, Kristus tetap memerintah dari takhta-Nya.
Namun kenaikan Yesus bukan hanya berbicara tentang kemuliaan Kristus di surga. Kenaikan juga berbicara tentang tugas orang percaya di bumi.
Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya: memberitakan Injil dan menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Artinya, gereja tidak dipanggil hanya untuk sibuk di dalam gedung ibadah, tetapi hadir membawa terang Kristus di tengah dunia.
Sayangnya, banyak orang Kristen hari ini lebih sibuk mengejar kenyamanan daripada menjalankan panggilan Tuhan. Ada yang bangga dengan simbol agama, tetapi kehilangan kasih. Ada yang aktif beribadah, tetapi diam terhadap ketidakadilan. Ada yang rajin berbicara tentang surga, tetapi lupa menjadi berkat di bumi.
Padahal kenaikan Kristus seharusnya membangunkan gereja untuk hidup dalam misi Allah.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat kuat:
“Urip iku urup.”
Artinya: Hidup harus menjadi terang dan memberi manfaat.
Makna ini sangat sejalan dengan panggilan Kristen. Orang percaya dipanggil bukan sekadar menjadi penonton dunia, tetapi menjadi terang yang menghadirkan kasih, pengharapan, dan kebenaran Allah.
Kenaikan Yesus juga memberi pengharapan besar bagi umat percaya. Malaikat berkata bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik ke surga. Ini berarti sejarah dunia sedang bergerak menuju kedatangan Kristus yang kedua kali.
Karena itu hidup orang percaya tidak boleh hanya berpusat pada dunia yang sementara ini. Dunia akan berlalu, tetapi Kerajaan Allah tetap kekal.
Kenaikan Tuhan Yesus mengingatkan bahwa ada Raja yang hidup di atas segala raja dunia. Ia bukan Tuhan yang jauh dan meninggalkan umat-Nya. Melalui Roh Kudus, Kristus tetap hadir, menyertai, menguatkan, dan bekerja dalam kehidupan orang percaya.
Maka setiap perayaan Kenaikan Tuhan Yesus seharusnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momen untuk mengingat kembali siapa Kristus sebenarnya: Raja yang dimuliakan, Tuhan yang hidup, dan Juruselamat yang akan datang kembali.
Karena Yesus naik ke surga bukan untuk menjauh dari manusia,
tetapi untuk memerintah, menyertai, dan menuntun umat-Nya menuju hidup yang kekal.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
alias Romo Kefas


