PusakaIlahi.com
Gedung penuh.
Suara nyanyian menggema.
Doa-doa dinaikkan dengan khusyuk.
Semua terlihat rohani.
Tapi di luar sana—
ketidakadilan tetap berjalan tanpa gangguan.
Orang kecil tetap terpinggirkan.
Yang lemah tetap tidak punya suara.
Lalu muncul satu pertanyaan yang tidak nyaman:
Kalau ibadah kita benar, kenapa dunia di sekitar kita tidak berubah?
Mungkin masalahnya bukan pada seberapa sering kita beribadah,
tetapi pada seberapa jauh ibadah itu mempengaruhi hidup kita.
Kita telah mengubah iman menjadi rutinitas.
Datang, duduk, dengar, pulang.
Ulangi minggu depan.
Tanpa perubahan.
Tanpa keberanian.
Tanpa dampak.
Kita merasa sudah dekat dengan Tuhan,
padahal kita hanya dekat dengan aktivitas keagamaan.
Dan itu dua hal yang berbeda.
Ibadah seharusnya bukan tempat pelarian dari dunia,
tetapi tempat pengutusan kembali ke dunia.
Bukan untuk bersembunyi,
tetapi untuk diutus.
Namun yang terjadi hari ini,
banyak orang lebih nyaman menjadi penonton rohani
daripada pelaku kasih.
Kita suka mendengar firman,
tapi tidak suka hidup dalam firman.
Kita ingin diberkati,
tapi enggan menjadi berkat.
Kita mau dihibur,
tapi tidak mau terlibat.
Padahal iman yang sejati selalu menuntut respons.
Ia tidak berhenti di telinga.
Ia harus turun ke tangan dan kaki.
Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dalam keberanian kita membela yang benar.
Dalam keputusan kita untuk tidak diam saat melihat yang salah.
Masalahnya, kita sering takut.
Takut tidak diterima.
Takut kehilangan kenyamanan.
Takut berdiri sendirian.
Akhirnya kita memilih netral.
Padahal dalam banyak situasi,
netral adalah cara paling aman untuk tidak berbuat apa-apa.
Dan diam—
sering kali adalah bentuk persetujuan yang paling halus.
Jika iman kita tidak pernah mengganggu ketidakadilan,
mungkin iman itu sudah terlalu jinak.
Jika iman kita tidak pernah membuat kita bergerak,
mungkin itu bukan iman—
hanya kebiasaan.
Kita lupa bahwa terang tidak diciptakan untuk disimpan.
Ia harus bersinar.
Dan ketika terang bersinar,
kegelapan tidak nyaman.
Yesus tidak datang untuk menciptakan pengikut yang pasif.
Ia memanggil orang-orang yang berani hidup berbeda.
Berani mengasihi saat dunia membenci.
Berani peduli saat orang lain cuek.
Berani berdiri saat yang lain diam.
Dan ya—itu tidak selalu nyaman.
Tapi iman memang tidak pernah dirancang untuk nyaman.
Ia dirancang untuk berdampak.
Jadi sebelum kita bangga dengan ibadah kita,
mungkin kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah hidup kita sudah menjadi jawaban bagi doa-doa kita?
Atau kita hanya pandai berdoa,
tanpa pernah mau menjadi jawabannya?
Sebab dunia tidak berubah karena ibadah yang ramai—
tetapi karena orang-orang yang berani hidup dari apa yang mereka sembah.


