Pusakailahi.comĀ
Ada musim di mana banyak orang pulang.
Jalanan dipenuhi kendaraan, hati dipenuhi kerinduan. Semua orang bergerak menuju satu arahārumah. Tempat di mana kasih menunggu, tempat di mana pelukan menghapus lelah.
Dan setiap kali musim itu tiba, saya pun ikut merasakannya.
Bukan karena kami merayakan Idul Fitri.
Tetapi karena di dalam momen itu, saya belajar tentang arti pulang yang sesungguhnya.
Dulu, setiap libur Lebaran, kami sekeluarga selalu pulang ke Karangpandan, Karanganyar. Tepatnya di Dusun Genengātempat di mana istri saya dilahirkan, dan tempat di mana Tuhan mengizinkan kami merasakan kehangatan keluarga yang begitu nyata.
Di sanalah, saya melihat kasih bekerja dalam hal-hal sederhana.
Dalam sapaan yang tulus.
Dalam meja makan yang sederhana namun penuh.
Dalam tawa yang tidak dibuat-buat.
Ibu dan Bapak mertua kami menjadi saluran kasih itu.
Mereka tidak hanya menerima kami, tetapi menghadirkan rasa ārumahā yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kehadiran mereka seperti pelukan Tuhan yang nyataāhangat, tenang, dan menenangkan.
Kami tidak pernah datang untuk merayakan hari raya.
Kami datang untuk mengalami kasih.
Hari-hari itu berjalan sederhana.
Namun di dalam kesederhanaan itu, ada damai yang begitu dalam.
Kami makan bersama, berjalan bersama, duduk dan berbagi cerita tanpa tergesa. Tidak ada yang besar, tidak ada yang mewah, tetapi hati terasa penuh.
Dan seringkali, kita baru menyadari nilai sebuah berkat⦠setelah berkat itu tidak lagi kita miliki.
Tahun 2020 menjadi tahun yang mengubah segalanya.
Tuhan memanggil pulang Bapak dan Ibu mertua kami.
Sejak saat itu, saya mulai memahami bahwa pulang di dunia ini tidak selalu bersifat tetap. Ada musim di mana Tuhan mengizinkan kita merasakan kehilangan, agar kita belajar melihat lebih dalamābahwa rumah sejati tidak hanya ada di bumi.
Karangpandan masih ada.
Dusun Geneng tetap sama.
Rumah itu masih berdiri.
Namun suasananya tidak lagi seperti dulu.
Tidak ada lagi kehadiran yang dulu membuat semuanya hidup. Tidak ada lagi suara yang menyambut, tidak ada lagi pelukan yang menenangkan.
Dan di situlah, kerinduan itu berubah.
Bukan lagi kerinduan untuk berkumpul seperti dahulu,
melainkan kerinduan yang dibawa dalam doa.
Terkadang, kami pulang⦠bukan ke rumah itu,
tetapi ke makam mereka.
Kami berdiri dalam diam.
Dan di dalam keheningan itu, saya belajar berbicara kepada Tuhan.
Tentang rindu yang tidak bisa diungkapkan.
Tentang kehilangan yang tidak bisa digantikan.
Tentang kenangan yang masih hidup di dalam hati.
Dan perlahan saya mengertiā
Bahwa kasih yang kami rasakan dahulu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah bentuk.
Dari kehadiran yang terlihat,
menjadi kenangan yang menguatkan.
Dari pelukan yang nyata,
menjadi penghiburan yang Tuhan tanamkan di dalam hati.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita adalah pendatang di dunia ini, dan rumah kita yang kekal ada bersama Dia.
Maka ketika kami merindukan mereka, sesungguhnya kami juga sedang merindukan rumah yang lebih kekalārumah di mana tidak ada lagi perpisahan.
Kini, setiap musim mudik datang, saya tidak lagi hanya melihat perjalanan manusia kembali ke kampung halaman.
Saya melihatnya sebagai gambaran perjalanan jiwaākerinduan untuk kembali kepada sumber kasih yang sejati.
Kampung halaman itu masih ada.
Namun bagi saya, ia kini menjadi pengingatā
bahwa kami pernah merasakan kasih Tuhan melalui keluarga,
dan bahwa suatu hari nanti, kami akan pulangā¦
ke rumah yang tidak akan pernah kehilangan kehangatan itu lagi.
Kerinduan itu masih ada.
Namun kini, ia tidak hanya membawa saya kembali ke masa lalu,
tetapi juga mengarahkan hati sayaā¦
kepada Tuhan.
Diceritakan oleh Romo Kefas kepada Redaksi.


