Pusakailahi.com
Kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri.
(Yohanes 16:32)
Ada momen dalam hidup yang tidak pernah kita rencanakan:
ditinggalkan… saat kita paling membutuhkan.
Bukan oleh orang asing, tetapi oleh mereka yang pernah berkata, “Aku akan selalu ada.”
Getsemani membuktikan satu hal yang jujur tentang manusia—
bahwa kesetiaan sering kali kalah oleh ketakutan,
dan komitmen bisa runtuh oleh tekanan.
Para murid tidak membenci Yesus.
Mereka hanya tidak cukup kuat untuk tetap tinggal.
Dan itu adalah kenyataan yang pahit:
tidak semua orang yang mencintai kita, mampu bertahan bersama kita.
Yesus mengetahui itu sejak awal.
Namun yang mengejutkan bukanlah kepergian para murid—
melainkan sikap Yesus saat ditinggalkan.
Ia tidak mengejar mereka.
Ia tidak marah.
Ia tidak membatalkan misi-Nya.
Ia tetap melangkah… sendirian.
Karena ada tujuan yang tidak bisa diselesaikan bersama orang lain.
Ada panggilan yang memang harus dijalani sendiri.
Dan ada proses yang hanya bisa dikerjakan Tuhan dalam kesunyian.
Sering kali kita salah memahami kesendirian.
Kita mengira itu tanda kegagalan, padahal bisa jadi itu adalah tanda kepercayaan dari Tuhan.
Bahwa kita sedang dibawa naik level.
Firman Tuhan berkata:
“Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.” (Yohanes 16:32b)
Inilah rahasia kekuatan Yesus—
Ia mungkin ditinggalkan manusia,
tetapi tidak pernah ditinggalkan oleh Bapa.
Dan itu cukup.
Hari ini mungkin kamu sedang mengalami hal yang sama:
ditinggalkan, dilupakan, atau berjalan sendiri dalam pergumulan.
Pesan Tuhan sederhana tapi dalam:
“Jika semua pergi, Aku tetap tinggal.”
Kesendirian bukan akhir dari cerita.
Sering kali, itu justru awal dari karya Tuhan yang terbesar dalam hidup kita.
Karena di saat tidak ada yang bisa diandalkan,
kita akhirnya belajar mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Dan di situlah iman bertumbuh—bukan dari keramaian,
tetapi dari kesunyian yang penuh kehadiran-Nya.
Jangan takut berjalan sendiri,
jika Tuhan berjalan bersamamu.
Sebab bisa jadi,
justru saat semua pergi…
Tuhan sedang bekerja paling dekat.
— Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
