KETIKA HATI TERLUKA, PILIHAN ITU MENENTUKAN: BALAS ATAU MENGASIH?
PusakaIlahi.com – Dalam hidup, luka terdalam sering kali bukan datang dari orang jauh,
melainkan dari mereka yang pernah kita anggap dekat—bahkan keluarga.
Kita bisa saja melupakan kata-kata kasar dari orang lain,
tetapi pengkhianatan dari orang terdekat… sering kali menetap lama di dalam hati.
Ia bukan hanya menyakitkan,
tetapi juga meruntuhkan kepercayaan.
Dan di titik itulah, kita dihadapkan pada satu pertanyaan yang tidak mudah:
Apa yang harus kita lakukan ketika hati kita terluka?
Apakah kita membalas?
Ataukah kita memilih diam, namun menyimpan luka?
Atau… adakah jalan lain yang lebih tinggi, meski terasa sangat berat?
Jawaban atas pergumulan itu ternyata sudah ada.
Dalam Yohanes 13:1-20, kita melihat sebuah tindakan yang mengguncang logika manusia. Yesus, yang tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, tidak menjauh. Ia tidak mempermalukan. Ia tidak menolak.
Ia justru berlutut… dan membasuh kaki Yudas.
Dalam konteks budaya mana pun, termasuk budaya Indonesia, tindakan itu adalah simbol kerendahan hati yang paling dalam. Posisi seorang pelayan. Posisi yang tidak mencari kehormatan, tetapi memilih untuk merendahkan diri.
Artinya, Yesus dengan sadar memilih untuk tetap mengasihi—bahkan kepada orang yang akan melukai-Nya.
Ini bukan kelemahan.
Ini adalah kekuatan yang jarang dimiliki manusia.
Dalam kearifan lokal kita, sebenarnya nilai ini tidak asing.
Ada ungkapan: “Menang tanpa ngasorake” — menang tanpa merendahkan.
Ada semangat gotong royong — menjaga relasi lebih penting daripada ego.
Ada juga prinsip hidup yang mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah kemuliaan sejati.
Namun sering kali, kita justru memilih sebaliknya.
Kita ingin membalas.
Kita ingin membuktikan diri.
Kita ingin menunjukkan bahwa kita tidak bisa diperlakukan sembarangan.
Padahal, Yesus menunjukkan jalan yang berbeda.
Ia tidak membalas pengkhianatan dengan kemarahan.
Ia tidak menjawab luka dengan luka.
Ia memilih untuk tetap mengasihi.
Dan di sinilah kita harus jujur pada diri sendiri.
Bukankah kita pun sering seperti Yudas?
Kita tahu kehendak Tuhan, tetapi tetap memilih jalan kita sendiri.
Kita sudah menerima kasih-Nya, tetapi masih jatuh dalam kesalahan yang sama.
Namun, kasih Tuhan tidak berubah.
Ia tetap mengampuni.
Ia tetap menerima.
Ia tetap “membasuh kaki kita” setiap kali kita datang kepada-Nya.
Lalu hari ini, kita dihadapkan pada satu keputusan:
Apakah kita akan terus menyimpan luka…
atau belajar mengasihi seperti Yesus?
Mengasihi bukan berarti membenarkan kesalahan.
Mengasihi berarti tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita.
Karena pada akhirnya, bukan orang lain yang paling terluka oleh kepahitan—
tetapi diri kita sendiri.
Mengampuni bukan berarti lemah,
tetapi bukti bahwa hati kita cukup kuat untuk tidak dikuasai luka.
DOA
Tuhan, Engkau tahu setiap luka di dalam hatiku.
Ajari aku untuk tidak membalas dengan kebencian.
Berikan aku kekuatan untuk mengampuni dan tetap mengasihi,
seperti Engkau telah mengasihiku.
Amin.
KASIH YANG SEJATI TERUJI BUKAN SAAT SEMUA BAIK-BAIK SAJA,
MELAINKAN SAAT HATI TERLUKA NAMUN TETAP MEMILIH MENGASIHI.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K)


