Pusakailahi.com Tidak ada dosa yang berhenti pada satu orang saja. Dosa yang dibiarkan akan menyebar, memengaruhi, dan akhirnya merusak banyak kehidupan. Itulah gambaran mengerikan dalam Hakim-hakim 18.
Kisah ini bukan tentang pertobatan umat Tuhan, melainkan tentang dosa yang semakin meluas dan dianggap biasa. Mikha memiliki berhala dan imam palsu. Suku Dan merampas serta merebut dengan cara yang salah. Bahkan seorang Lewi, keturunan Musa, rela meninggalkan kebenaran demi kedudukan dan kenyamanan.
Yang paling berbahaya bukan sekadar dosa itu sendiri, tetapi ketika manusia mulai merasa dosa itu “wajar.”
Awalnya orang Lewi itu menegur tindakan suku Dan. Namun ketika ditawari posisi yang lebih besar dan lebih menguntungkan, ia berubah arah. Ia rela mengkhianati tanggung jawabnya demi kepentingan pribadi.
Inilah wajah dosa yang sebenarnya:
perlahan melemahkan hati nurani sampai manusia tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Ada pribahasa Jawa yang sangat kuat:
“Sithik-sithik suwe-suwe dadi bukit.”
Artinya: Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi besar.
Pribahasa ini tidak hanya berlaku untuk hal baik, tetapi juga dosa. Kebiasaan kecil yang salah, jika terus dibiarkan, akan berubah menjadi kehancuran besar. Dosa yang awalnya dianggap sepele akhirnya menjadi gaya hidup.
Hari ini banyak orang tidak lagi takut terhadap dosa. Kebohongan dianggap biasa. Ketidakjujuran disebut kepintaran. Keserakahan dianggap keberhasilan. Bahkan ada yang memakai nama Tuhan untuk membenarkan tindakan yang salah.
Padahal dosa tidak pernah membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan. Dosa hanya membuat hati menjadi semakin gelap.
Hakim-hakim 18 menunjukkan betapa cepat dosa menyebar ketika manusia berhenti menghormati firman Tuhan. Yang salah dianggap benar. Yang benar dianggap berlebihan.
Dan ironinya, semua itu dilakukan sambil tetap merasa “rohani.”
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat dalam:
“Yen salah ojo dibener-benerke.”
Artinya: Kalau salah, jangan dipaksa dianggap benar.
Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan manusia. Ketika hati sudah kompromi, seseorang mulai mencari pembenaran atas dosanya sendiri. Ia tidak lagi mencari kehendak Tuhan, melainkan mencari alasan agar dirinya merasa aman.
Padahal firman Tuhan tidak pernah berubah mengikuti keinginan manusia.
Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa dosa yang tidak dibereskan akan terus berkembang. Dari satu rumah menyebar ke satu suku. Dari satu kesalahan menjadi kebiasaan turun-temurun.
Karena itu, jangan pernah bermain-main dengan dosa sekecil apa pun. Jangan membiarkan hati menjadi mati rasa terhadap kesalahan. Sebab ketika dosa mulai dianggap biasa, kehancuran sebenarnya sudah dimulai.
Tuhan memanggil umat-Nya untuk hidup kudus, bukan hidup dalam kompromi.
Mari belajar menjaga hati, menghormati firman Tuhan, dan menolak dosa sepenuhnya. Jangan hanya terlihat rohani di luar, tetapi pastikan hati tetap setia kepada Tuhan.
Karena dosa yang dibiarkan hari ini
dapat menjadi kehancuran besar di kemudian hari.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


