PusakaIlahi.com
Ada satu hal yang sering kita lakukan tanpa rasa bersalah:
alarm berbunyi… lalu kita matikan.
Bukan karena kita tidak dengar,
tetapi karena kita tidak mau bangun.
Dan tanpa sadar—
itulah gambaran hidup rohani banyak orang hari ini.
Tuhan sudah berbicara.
Tuhan sudah memperingatkan.
Tuhan sudah “membangunkan”…
tapi kita memilih tidur lagi.
Bukan tidak tahu.
Kita tahu.
Bukan tidak sadar.
Kita sadar.
Tapi kita menunda.
“Nanti saja berubah.”
“Nanti saja serius.”
“Nanti saja dekat dengan Tuhan.”
Masalahnya—
pencobaan tidak pernah menunggu kita siap.
Ia datang tiba-tiba,
dan sering kali…
kita kalah sebelum sempat melawan.
Di taman Getsemani, Yesus sudah memberi peringatan jelas:
“Berjaga-jagalah dan berdoalah…” (Matius 26:41)
Itu bukan saran lembut.
Itu alarm darurat.
Karena Yesus tahu sesuatu yang sering kita abaikan:
niat baik tidak cukup.
Kita sering merasa aman karena “hati kita baik”.
Kita pikir selama kita punya niat benar, semuanya akan baik-baik saja.
Tapi Yesus berkata:
“Roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah.” (Matius 26:41)
Artinya—
masalahnya bukan pada keinginan kita,
tetapi pada kekuatan kita.
Kita ingin benar, tapi mudah jatuh.
Kita ingin kuat, tapi gampang goyah.
Kita ingin setia, tapi cepat lelah.
Dan tanpa doa—
kita tidak punya pertahanan.
Firman Tuhan kembali mengingatkan:
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)
Di sinilah kearifan lama mengingatkan kita.
Peribahasa Jawa berkata:
“Waspada iku luwih becik tinimbang nyesel mengko.”
(Waspada itu lebih baik daripada menyesal kemudian.)
Sayangnya, banyak orang memilih kebalikannya:
tidak berjaga sekarang,
lalu menyesal kemudian.
Doa bukan formalitas.
Doa adalah “mode siaga” dalam hidup rohani.
Tanpa doa, kita seperti tentara yang tidur di medan perang.
Tanpa doa, kita seperti orang yang berjalan tanpa sadar di tepi jurang.
Masalahnya, banyak orang hanya berdoa saat sudah jatuh.
Saat hidup kacau, baru cari Tuhan.
Saat hancur, baru ingat doa.
Padahal doa seharusnya dilakukan sebelum jatuh—
bukan setelahnya.
Peribahasa Jawa lain berkata:
“Sedia payung sadurunge udan.”
(Sediakan payung sebelum hujan.)
Dan Alkitab menegaskan:
“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya.” (Efesus 6:18)
Hari ini, mungkin Tuhan sedang membunyikan alarm dalam hidupmu.
Lewat firman ini.
Lewat kegelisahan yang kamu rasakan.
Lewat situasi yang sedang kamu hadapi.
Tapi seperti biasa—
kamu punya dua pilihan:
Bangun…
atau tunda lagi.
Firman Tuhan berkata:
“Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Efesus 5:14)
Jangan salah.
Setiap kali kamu menunda,
kamu tidak sedang menunggu waktu yang tepat—
kamu sedang memberi kesempatan pada kelemahanmu.
Dan semakin lama kamu tidur,
semakin sulit kamu bangun.
Jadi sebelum semuanya terlambat—
bangun sekarang.
Berjaga sekarang.
Berdoa sekarang.
Karena orang yang berjaga tidak kebal dari pencobaan,
tapi mereka siap menghadapinya.
Sebab hidup rohani bukan tentang seberapa sering kita bangun—
tetapi seberapa cepat kita merespons saat Tuhan membangunkan kita.
— Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


