PusakaIlahi.com Salah satu jebakan paling berbahaya dalam kehidupan rohani adalah ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih benar daripada orang lain. Dari luar terlihat membela kebenaran, tetapi diam-diam hatinya dipenuhi kesombongan rohani.
Hakim-hakim 20 memperlihatkan situasi yang sangat keras sekaligus menyakitkan. Bangsa Israel marah terhadap kejahatan yang terjadi di Gibea. Mereka bersatu untuk menghukum suku Benyamin yang melindungi para pelaku kejahatan.
Secara manusiawi, tindakan mereka tampak benar. Mereka ingin menegakkan keadilan. Mereka bahkan datang meminta petunjuk Tuhan sebelum maju berperang.
Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Tuhan justru membiarkan mereka kalah dua kali.
Puluhan ribu tentara Israel tewas, padahal mereka merasa berada di pihak yang benar. Mengapa Tuhan mengizinkan hal itu?
Karena Tuhan tidak hanya melihat dosa yang dilakukan Benyamin. Tuhan juga melihat hati bangsa Israel sendiri.
Mereka memang lebih benar dibanding Benyamin, tetapi bukan berarti mereka hidup benar sepenuhnya di hadapan Tuhan. Masa hakim-hakim adalah masa ketika setiap orang melakukan apa yang dianggap benar menurut pikirannya sendiri. Artinya, kerusakan rohani sudah menyebar ke seluruh bangsa.
Dan di situlah pelajaran besar dimulai:
Tuhan sering kali menghancurkan kesombongan umat-Nya sebelum memberikan kemenangan.
Hari ini, banyak orang mudah marah melihat dosa orang lain, tetapi tidak pernah serius memeriksa hidupnya sendiri. Mudah mengkritik, mudah menghakimi, mudah merasa suci. Padahal hati sendiri penuh amarah, iri hati, kebencian, dan ketidaktaatan.
Ada pribahasa Jawa yang sangat tajam:
“Kuman ing sebrang katon, gajah ing ngarep mata ora katon.”
Artinya: Kesalahan kecil orang lain terlihat jelas, tetapi kesalahan besar diri sendiri tidak disadari.
Kalimat ini menggambarkan keadaan manusia modern. Kita hidup di zaman ketika orang sibuk membicarakan kesalahan orang lain sambil melupakan pertobatan pribadi.
Tuhan mengizinkan Israel kalah supaya mereka sadar bahwa kemenangan bukan lahir dari rasa paling benar, melainkan dari pertobatan dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Setelah mengalami kekalahan besar, bangsa Israel akhirnya menangis, berpuasa, dan datang dengan hati yang remuk di hadapan Tuhan. Mereka tidak lagi mengandalkan jumlah pasukan atau merasa lebih suci daripada Benyamin.
Dan justru setelah hati mereka direndahkan, Tuhan memberikan kemenangan.
Ada hal penting yang sering tidak dipahami manusia:
kadang Tuhan mengizinkan kita “jatuh” bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membersihkan hati kita dari kesombongan.
Ada orang yang rajin melayani tetapi suka menghakimi. Ada yang aktif berbicara tentang kebenaran tetapi tidak hidup dalam kasih. Ada yang terlihat rohani di luar tetapi keras hati di dalam.
Padahal Tuhan tidak mencari orang yang sekadar benar menurut dirinya sendiri. Tuhan mencari hati yang rendah, mau bertobat, dan hidup dalam kasih.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat dalam:
“Ojo rumangsa paling bener.”
Artinya: Jangan merasa diri paling benar.
Sebab ketika seseorang mulai merasa paling benar, saat itu ia berhenti membuka hati untuk ditegur Tuhan.
Hakim-hakim 20 mengingatkan bahwa penghakiman Tuhan dimulai dari rumah-Nya sendiri. Tuhan ingin umat-Nya hidup dalam kebenaran yang disertai kasih, bukan dalam kesombongan rohani.
Karena itu, sebelum sibuk mengoreksi dunia, belajarlah membereskan hati sendiri. Sebelum menuntut orang lain berubah, izinkan Tuhan lebih dulu mengubah hidup kita.
Sebab kemenangan sejati bukan ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika hati kita ditaklukkan oleh Tuhan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
