Pusakailahi.com
Sapaan Gembala – Pdt. Andy Markus
Rabu, 25 Maret 2026
“Tetapi Petrus berkata: ‘Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!’ Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.”
(Kisah Para Rasul 3:6–7 TB)
Nilai Tertinggi dari Otoritas
Pencapaian tertinggi dari seseorang yang telah menerima kuasa bukan terletak pada kemampuannya untuk mendemonstrasikan kuasa tersebut, melainkan pada seberapa dekat ia melekat dengan sumber kuasa itu sendiri.
Kuasa dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang besar dan spektakuler dalam pelayanan. Namun jika karena itu seseorang menjadi jauh dari Tuhan, tidak lagi hidup di bawah kendali-Nya, maka pada akhirnya semua itu akan berujung pada kesia-siaan.
Yesus sendiri memiliki kuasa yang luar biasa dan melakukan banyak perkara yang mengundang kekaguman. Ia memiliki kesempatan untuk memanfaatkan popularitas tersebut, namun Ia tidak berfokus pada demonstrasi kuasa. Yesus memahami bahwa hubungan-Nya dengan Allah jauh lebih penting.
Kuasa yang terbesar justru terletak pada hubungan. Seseorang yang memiliki hubungan dengan Allah akan dikenal sebagai anak Allah. Kuasa yang berasal dari Allah tidak berdiri sendiri, melainkan melekat dan terikat pada hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Kuasa sebagai Otoritas Ilahi
Ungkapan Yesus, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu,” menegaskan bahwa kuasa ini adalah kuasa ilahi yang diberikan langsung kepada para murid-Nya, yang kemudian menjadi rasul-rasul Kristus.
Tujuan dari kuasa tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi sebagai tanda otoritas ilahi—sebuah “stempel” yang memampukan mereka melakukan perkara-perkara ajaib sebagai alat untuk memberitakan karya keselamatan yang telah Yesus kerjakan di kayu salib.
Apa yang dilakukan oleh Petrus dalam Kisah Para Rasul 3 menjadi contoh nyata. Ia tidak menawarkan kekayaan, tetapi memberikan kuasa yang berasal dari nama Yesus Kristus, yang menghasilkan pemulihan dan kesembuhan.
Kuasa sebagai Tanda Kehadiran Allah
Kuasa yang bekerja melalui orang percaya adalah tanda kehadiran Allah. Hal ini tidak hanya terjadi pada gereja mula-mula, tetapi terus berlangsung hingga masa sekarang.
Sejak awal penciptaan, Allah telah memberikan kuasa kepada manusia (Kejadian 1:28). Kuasa itu bukan untuk memuliakan manusia, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Allah di dalam kehidupan manusia.
Kiranya setiap orang percaya tidak hanya mengejar manifestasi kuasa, tetapi lebih lagi mengejar hubungan yang intim dengan Tuhan, karena di sanalah letak kuasa yang sejati.
Soli Deo Gloria.
