Oleh: Jurnalis Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas
Jurnalis , Penggiat Budaya, Aktivis 98
Indonesia sejak dahulu dikenal bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya. Dari Sabang sampai Merauke, bangsa ini dibangun dari ribuan suku, bahasa, adat, dan tradisi yang berbeda. Namun justru dari perbedaan itulah Indonesia lahir sebagai bangsa yang besar.
Sayangnya, di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, manusia perlahan mulai kehilangan salah satu nilai paling penting dalam kehidupan: menjaga persaudaraan.
Hari ini masyarakat semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan, pandangan, bahkan cara berpikir. Sedikit perbedaan pendapat sering berubah menjadi pertengkaran. Media sosial dipenuhi saling hina, saling menyerang, dan saling menjatuhkan. Banyak orang lebih sibuk mempertahankan ego daripada menjaga hubungan baik dengan sesama.
Padahal budaya luhur bangsa Indonesia sejak dahulu mengajarkan tentang hidup rukun dan saling menghormati.
Orang Jawa mengenal filosofi “rukun agawe santosa” — kerukunan menciptakan kekuatan. Masyarakat Sunda memiliki ajaran silih asah, silih asih, silih asuh yang mengajarkan saling menguatkan, saling mengasihi, dan saling menjaga. Di tanah Batak dikenal nilai dalihan na tolu yang mengajarkan penghormatan dan keseimbangan dalam hubungan sosial. Sementara masyarakat Bugis mengenal prinsip sipakatau — memanusiakan manusia.
Nilai-nilai itu lahir bukan tanpa alasan. Leluhur Nusantara memahami bahwa sebuah bangsa tidak akan bertahan lama jika masyarakatnya mudah terpecah oleh kebencian dan permusuhan.
Namun hari ini, manusia modern justru sering melupakan akar kebudayaannya sendiri. Kemajuan teknologi membuat manusia semakin cepat berbicara, tetapi semakin lambat memahami. Semua ingin didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar. Semua ingin dihormati, tetapi lupa bagaimana menghormati orang lain.
Inilah tantangan terbesar kehidupan saat ini: manusia semakin maju secara teknologi, tetapi sering mundur dalam nilai kemanusiaan.
Padahal sesungguhnya kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada ekonomi atau pembangunan fisiknya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga persatuan dan rasa hormat terhadap sesama.
Budaya Indonesia tidak pernah mengajarkan kebencian. Budaya Nusantara dibangun di atas nilai gotong royong, tenggang rasa, dan persaudaraan. Dahulu masyarakat desa hidup saling membantu tanpa melihat perbedaan agama, suku, maupun status sosial. Ketika ada tetangga kesusahan, semua datang membantu. Ketika ada musibah, masyarakat bergotong royong tanpa diminta.
Hari ini nilai seperti itu mulai terasa langka.
Manusia lebih mudah terpancing emosi daripada menyelesaikan masalah dengan hati dingin. Perdebatan sering lebih penting daripada persaudaraan. Bahkan tidak sedikit orang rela memutus hubungan hanya karena berbeda pilihan hidup.
Karena itu, bangsa ini sebenarnya sedang membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menjadi penyejuk di tengah suasana yang panas.
Menjadi manusia yang mempersatukan bukan berarti harus selalu setuju dengan semua orang. Kedewasaan justru terlihat ketika seseorang tetap mampu menghargai orang lain meski berbeda pandangan.
Indonesia terlalu besar untuk dipenuhi permusuhan kecil.
Bangsa ini berdiri karena persatuan. Para pendiri bangsa dahulu datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi mereka mampu duduk bersama demi satu tujuan yang lebih besar: menjaga Indonesia tetap utuh.
Semangat itu seharusnya tetap hidup sampai hari ini.
Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk saling membenci. Sebab pada akhirnya manusia tidak dikenang karena seberapa keras ia berdebat, tetapi karena seberapa besar manfaat, keteduhan, dan kasih yang ia berikan kepada sesama.
Karena itu, di tengah dunia yang semakin keras, jadilah pribadi yang tetap membawa kesejukan. Jadilah manusia yang mampu merangkul, bukan memecah. Jadilah orang yang tetap memiliki hati nurani ketika banyak manusia mulai kehilangan kepedulian.
Sebab mungkin di zaman sekarang, salah satu hal paling berharga bukan kekuasaan atau popularitas, melainkan manusia yang tetap mau hidup dengan nilai budaya, rasa hormat, dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa Indonesia.


