JANJI, MATA UANG YANG SERING KEHILANGAN NILAINYA
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)
Pernahkah kita memperhatikan bahwa manusia sering kali lebih mudah melupakan kebaikan daripada melupakan sebuah janji yang tidak ditepati? Bukan karena manusia senang menyimpan kepahitan, melainkan karena harapan yang dibangun lalu dibiarkan runtuh selalu meninggalkan bekas yang lebih dalam daripada pertolongan yang tidak pernah dijanjikan sejak awal.
Sesungguhnya banyak luka dalam kehidupan tidak lahir dari permusuhan, melainkan dari harapan. Harapan yang tumbuh dari kata-kata. Harapan yang dibangun oleh komitmen. Harapan yang muncul ketika seseorang berkata, “Tenang saja, nanti saya bantu,” atau “Nanti saya transfer.” Kalimat yang sederhana, tetapi mampu membangkitkan keyakinan dalam hati orang yang mendengarnya.
Namun di situlah ironi zaman ini bermula.
Kita hidup di era yang kaya akan kata-kata tetapi sering miskin keteladanan. Banyak orang pandai berbicara tentang integritas, tetapi tidak semua siap membayar harga dari integritas itu sendiri. Tidak sedikit yang gemar mengutip ayat tentang kesetiaan, namun lalai menjaga kesetiaan terhadap perkataannya sendiri.
Lebih ironis lagi, terkadang janji paling mudah keluar justru dari mereka yang paling dihormati. Jabatan semakin tinggi, gelar semakin panjang, pengaruh semakin luas, tetapi nilai sebuah komitmen justru semakin tipis. Seolah-olah perkataan cukup diucapkan untuk didengar, bukan untuk diwujudkan.
Padahal Alkitab mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Di hadapan Allah, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, luasnya relasi, atau tingginya jabatan. Tuhan tidak pernah terpesona oleh atribut manusia. Yang Tuhan perhatikan adalah keselarasan antara ucapan dan tindakan. Sebab karakter sejati tidak terlihat ketika seseorang berbicara tentang kebenaran, tetapi ketika ia diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Di zaman pencitraan seperti sekarang, banyak orang ingin terlihat baik tanpa harus benar-benar berbuat baik. Ingin dikenal peduli tanpa harus berkorban. Ingin dianggap setia tanpa harus memegang komitmen. Bahkan ada yang begitu rajin membangun reputasi di hadapan manusia, tetapi lupa menjaga integritas di hadapan Tuhan.
Inilah satir kehidupan yang sering kita saksikan.
Ada orang yang berbicara tentang kejujuran di atas mimbar, tetapi lupa jujur terhadap perkataannya sendiri. Ada yang mengajarkan tentang kesetiaan kepada banyak orang, tetapi mengabaikan janji yang pernah keluar dari bibirnya. Ada yang menuntut kepercayaan dari orang lain, sementara dirinya sendiri perlahan sedang mengikis kepercayaan itu sedikit demi sedikit.
Sesungguhnya janji bukan sekadar rangkaian kata. Janji adalah cermin karakter. Ketika seseorang mengucapkannya, ia sedang mempertaruhkan kehormatan dirinya sendiri. Karena itu, setiap janji yang dibiarkan menggantung sesungguhnya bukan hanya melukai harapan orang lain, tetapi juga mengurangi nilai integritas orang yang mengucapkannya.
Yesus berkata:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Matius 5:37)
Perkataan Yesus ini sederhana, tetapi sangat tajam. Kristus tidak mengajarkan umat-Nya menjadi pribadi yang pandai berjanji. Ia mengajarkan untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Sebab kepercayaan tidak dibangun oleh banyaknya kata-kata, melainkan oleh konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Mungkin itulah sebabnya dunia hari ini tidak terlalu membutuhkan lebih banyak pidato tentang integritas. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang hidup dalam integritas. Sebab satu tindakan yang lahir dari ketulusan sering kali berbicara lebih keras daripada seribu janji yang tidak pernah diwujudkan.
Dunia tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan pemimpin. Tidak kekurangan tokoh. Namun dunia sedang mengalami krisis keteladanan. Krisis orang-orang yang menghormati perkataannya sendiri.
Karena sesungguhnya kehormatan seseorang tidak diukur dari berapa banyak janji yang pernah ia ucapkan, melainkan dari berapa banyak janji yang telah ia tepati.
Pada akhirnya, waktu mungkin membuat seseorang lupa terhadap janjinya. Namun orang yang menunggu biasanya tidak pernah lupa siapa yang mengucapkannya.
Maka sebelum kita berbicara tentang iman, pelayanan, kepemimpinan, atau integritas, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah perkataan kita masih memiliki nilai? Ataukah janji-janji yang pernah kita ucapkan telah kehilangan maknanya di tengah perjalanan hidup?
Sebab di mata Tuhan, karakter tidak dibuktikan ketika kita berbicara tentang kebenaran, tetapi ketika kita setia melakukan apa yang pernah kita katakan.
Jika hari ini ada janji yang belum kita tepati, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengingatnya kembali. Bukan karena orang lain sedang menagihnya, tetapi karena Tuhan sedang melihatnya.
Sebab janji yang ditepati melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kehormatan. Dan kehormatan adalah buah dari karakter yang dibangun dalam kesetiaan kepada hal-hal kecil.
“Janji adalah suara dari karakter. Ketika janji dibiarkan mati, yang terkubur bukan sekadar kata-kata, melainkan kepercayaan.”
— Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)


