Menjadi Ayah Seperti Kristus: Bukan Sekadar Hadir, Tetapi Menjadi Penuntun Kehidupan
Menjadi ayah bukanlah tentang seberapa besar yang kita berikan kepada anak-anak, tetapi seberapa besar bagian hidup kita yang kita berikan untuk membentuk mereka.
“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
(Efesus 5:25)
Ada banyak hal yang bisa membuat seorang pria menjadi ayah.
Tetapi tidak semua ayah otomatis menjadi bapak yang membentuk kehidupan.
Menjadi ayah bukan sekadar peristiwa biologis. Menjadi ayah adalah sebuah proses panjang yang dibangun melalui pengorbanan, tanggung jawab, kesabaran, air mata, doa, dan keteladanan yang berlangsung seumur hidup.
Sebagai seorang ayah, saya menyadari bahwa anak-anak tidak pernah meminta saya menjadi sempurna.
Mereka hanya membutuhkan saya untuk hadir.
Hadir ketika mereka belajar berjalan.
Hadir ketika mereka jatuh.
Hadir ketika mereka takut.
Hadir ketika mereka gagal.
Hadir ketika mereka membutuhkan seseorang yang dapat mereka percaya.
Dan semakin saya memahami Firman Tuhan, semakin saya menyadari bahwa menjadi ayah bukan tentang menjadi penguasa di rumah, tetapi menjadi pelayan yang rela berkorban sebagaimana Kristus melayani Jemaat-Nya.
Menjadi Ayah Adalah Sebuah Proses Pembentukan
Ketika seorang anak lahir, sesungguhnya bukan hanya seorang anak yang sedang bertumbuh.
Seorang ayah juga sedang dibentuk.
Anak belajar mengenal dunia.
Ayah belajar mengenal tanggung jawab.
Anak belajar berbicara.
Ayah belajar mendengar.
Anak belajar berjalan.
Ayah belajar menuntun.
Dan sering kali, melalui anak-anak, Tuhan sedang membentuk karakter seorang ayah.
Ada malam-malam ketika tubuh terasa lelah setelah bekerja.
Ada hari-hari ketika masalah pekerjaan dan kehidupan terasa begitu berat.
Ada saat-saat ketika hati dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan keluarga.
Namun di tengah semua itu, Tuhan mengingatkan bahwa keluarga bukan beban yang harus dipikul sendirian, melainkan amanat yang harus dijalani bersama-Nya.
Kristus Tidak Memimpin dengan Kekuasaan, Tetapi dengan Kasih
Banyak orang memahami kepemimpinan sebagai hak untuk memerintah.
Namun Kristus menunjukkan hal yang berbeda.
Yesus adalah Kepala Jemaat, tetapi Ia membasuh kaki murid-murid-Nya.
Ia memiliki kuasa atas surga dan bumi, tetapi memilih melayani.
Ia layak dihormati, tetapi rela merendahkan diri.
Inilah model kepemimpinan yang Tuhan kehendaki bagi seorang ayah.
Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang selalu benar.
Mereka membutuhkan ayah yang mau belajar mengakui kesalahan.
Mereka tidak membutuhkan ayah yang selalu kuat.
Mereka membutuhkan ayah yang mengajarkan bagaimana bergantung kepada Tuhan ketika sedang lemah.
Karena kepemimpinan sejati tidak dibangun melalui ketakutan.
Kepemimpinan sejati dibangun melalui kasih.
Anak Tidak Membutuhkan Ayah yang Kaya, Tetapi Ayah yang Hadir
Salah satu jebakan terbesar zaman ini adalah ketika seorang ayah begitu sibuk mencari nafkah hingga kehilangan kesempatan membangun hubungan dengan anak-anaknya.
Kita bekerja keras untuk memberikan masa depan yang baik.
Tetapi jangan sampai demi masa depan mereka, kita kehilangan masa kini bersama mereka.
Anak-anak tidak akan selalu mengingat mainan yang kita belikan.
Mereka mungkin tidak akan mengingat berapa harga hadiah yang pernah kita berikan.
Tetapi mereka akan mengingat waktu yang kita luangkan.
Mereka akan mengingat pelukan yang menenangkan.
Mereka akan mengingat doa yang kita panjatkan bersama.
Mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan ibu mereka.
Dan mereka akan mengingat apakah mereka melihat Kristus melalui kehidupan ayahnya.
Warisan Terbesar Bukan Harta, Tetapi Karakter
Suatu hari semua yang kita miliki akan ditinggalkan.
Rumah akan berpindah tangan.
Kendaraan akan menua.
Tabungan akan habis digunakan.
Jabatan akan digantikan.
Tetapi karakter yang ditanamkan kepada anak-anak akan terus hidup bahkan setelah kita tidak lagi ada.
Anak-anak mungkin melupakan banyak nasihat yang pernah kita sampaikan.
Namun mereka tidak akan melupakan kehidupan yang mereka lihat setiap hari.
Mereka akan mengingat apakah ayahnya jujur.
Apakah ayahnya setia.
Apakah ayahnya menghormati Tuhan.
Apakah ayahnya mengasihi keluarga.
Apakah ayahnya menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan.
Karena itu warisan terbesar seorang ayah bukanlah apa yang ditinggalkan di rekening bank.
Warisan terbesar adalah iman yang hidup dan karakter yang mengakar dalam kehidupan anak-anaknya.
Menjadi Imam di Tengah Keluarga
Salah satu panggilan yang sering dilupakan adalah bahwa seorang ayah dipanggil menjadi imam bagi keluarganya.
Bukan berarti harus berkhotbah setiap hari.
Tetapi menghadirkan Tuhan dalam kehidupan rumah tangga.
Membimbing keluarga dalam doa.
Mengajarkan Firman Tuhan.
Menjadi contoh pengampunan.
Menjadi contoh kesabaran.
Menjadi contoh integritas.
Sebab pendidikan rohani yang paling efektif bukan terjadi di atas mimbar gereja.
Tetapi di meja makan, di ruang keluarga, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sanalah anak-anak belajar mengenal Tuhan melalui kehidupan ayah dan ibunya.
Ketika Ayah Juga Sedang Belajar
Ada kalanya seorang ayah merasa gagal.
Merasa kurang sabar.
Merasa belum menjadi teladan yang baik.
Merasa belum memberikan yang terbaik.
Namun kabar baiknya adalah Tuhan tidak mencari ayah yang sempurna.
Tuhan mencari ayah yang mau terus bertumbuh.
Mau belajar.
Mau berubah.
Mau mengandalkan anugerah Tuhan setiap hari.
Sama seperti seorang anak belajar berjalan dengan jatuh dan bangun, seorang ayah pun belajar menjadi pemimpin keluarga melalui proses yang panjang.
Dan Tuhan yang memanggil juga akan memampukan.
Menjadi ayah seperti Kristus bukanlah tentang memiliki kuasa atas keluarga.
Melainkan memiliki hati yang rela berkorban bagi keluarga.
Bukan tentang menjadi yang paling dihormati.
Melainkan menjadi yang paling bertanggung jawab.
Bukan tentang menuntut anak-anak menjadi sempurna.
Melainkan membimbing mereka menuju Pribadi yang sempurna, yaitu Yesus Kristus.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang ayah tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil ia kumpulkan selama hidupnya.
Tetapi dari seberapa besar pengaruh ilahi yang ia tinggalkan dalam kehidupan anak-anaknya.
Dan ketika suatu hari anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, hidup dalam integritas, mengasihi sesama, serta tetap setia kepada Kristus di tengah dunia yang berubah, itulah salah satu mahkota terindah bagi seorang ayah.
Menjadi ayah adalah sebuah proses seumur hidup. Dan dalam setiap proses itu, Tuhan sedang membentuk bukan hanya anak-anak, tetapi juga hati seorang ayah agar semakin serupa dengan Kristus, Sang Kepala Jemaat yang mengasihi sampai akhir.
Soli Deo Gloria
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
Alias Romo Kefas


