Ketika Tuhan Tidak Langsung Menghapus Luka: Mungkin Ia Sedang Menulis Kesaksian
Bacaan: Yohanes 9:1-7
“Jawab Yesus, ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.'”
(Yohanes 9:3)
Ada satu kebiasaan manusia yang sulit dihilangkan: kita selalu ingin menemukan penyebab sebelum menemukan makna.
Ketika seseorang jatuh sakit, kita bertanya, “Apa dosanya?” Ketika sebuah keluarga mengalami musibah, kita berbisik, “Mungkin Tuhan sedang menghukum mereka.” Ketika usaha seseorang bangkrut, kita cepat menyimpulkan bahwa ia pasti telah melakukan kesalahan besar.
Padahal belum tentu demikian.
Dalam Yohanes 9, murid-murid Yesus membawa cara berpikir yang sama. Mereka melihat seorang yang buta sejak lahir dan langsung mencari siapa yang harus disalahkan. Mereka tidak melihat manusia yang menderita, tetapi sebuah kasus yang harus dijelaskan.
Namun Yesus mengubah arah pembicaraan.
Ia tidak tertarik mencari kambing hitam. Ia mengarahkan perhatian kepada karya Allah.
Kalimat-Nya begitu sederhana, tetapi menghancurkan banyak asumsi:
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya.”
Artinya, tidak semua penderitaan adalah hukuman pribadi. Tidak setiap air mata merupakan konsekuensi langsung dari dosa seseorang. Memang, dunia telah rusak karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, sehingga penderitaan menjadi bagian dari realitas hidup. Namun Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa setiap penderitaan dapat ditarik garis lurus dengan kesalahan pribadi.
Justru di sinilah kemuliaan Injil terlihat.
Allah sanggup memakai dunia yang telah rusak untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya.
Bayangkan seorang penenun yang sedang membuat permadani. Dari belakang, kita hanya melihat benang-benang kusut yang saling menyilang tanpa pola. Warnanya tidak beraturan, simpulnya terlihat semrawut, bahkan tampak seperti pekerjaan yang gagal.
Tetapi ketika permadani itu dibalik, terlihat sebuah gambar yang indah.
Kita sering melihat hidup dari sisi belakang.
Allah melihatnya dari sisi depan.
Karena itu kita sering menyebut hidup kita berantakan, sementara Tuhan sedang merangkai setiap benang menjadi karya yang utuh.
Orang buta dalam Yohanes 9 mungkin bertahun-tahun bertanya mengapa ia tidak pernah melihat matahari, wajah ibunya, atau warna langit. Namun ia tidak pernah tahu bahwa suatu hari kebutaannya akan menjadi tempat di mana dunia menyaksikan kuasa Mesias.
Yang menarik, Yesus tidak hanya memberikan jawaban teologis. Ia bertindak.
Ia meludah ke tanah, membuat adonan, mengoleskannya pada mata orang itu, lalu menyuruhnya pergi membasuh diri di kolam Siloam.
Mengapa prosesnya demikian?
Karena Allah tidak selalu bekerja dengan cara yang instan. Kadang Ia mengajak manusia melangkah dalam iman sebelum melihat hasilnya. Mukjizat sering kali dimulai dengan ketaatan.
Begitu pula dalam hidup kita.
Kita sering meminta Tuhan segera menghilangkan masalah, tetapi Tuhan justru sedang memakai proses itu untuk membentuk karakter yang tidak mungkin lahir melalui jalan yang mudah.
Secara teologis, penderitaan bukanlah tujuan akhir.
Allah tidak menikmati kesakitan manusia.
Sebaliknya, melalui Kristus kita melihat Allah yang masuk ke dalam penderitaan itu sendiri. Yesus tidak hanya menghibur dari kejauhan. Ia menjadi manusia, menangis, ditolak, disiksa, disalibkan, dan mati. Salib membuktikan bahwa Allah bukan Penonton yang pasif terhadap luka manusia, melainkan Juruselamat yang ikut menanggungnya.
Karena itu, ketika kita menderita, kita tidak sedang berjalan sendirian.
Kristus telah lebih dahulu berjalan di jalan yang penuh air mata.
Mungkin hari ini Anda merasa hidup sedang berada di titik paling gelap. Doa belum dijawab, penyakit belum sembuh, keluarga belum dipulihkan, atau masa depan tampak tidak jelas.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan Anda.
Bisa jadi justru di saat yang paling sunyi itulah Ia sedang bekerja paling dalam.
Benih tidak bertumbuh di atas permukaan tanah. Ia harus dikuburkan lebih dahulu.
Emas tidak menjadi murni tanpa melewati api.
Dan iman tidak menjadi dewasa tanpa melewati ujian.
Namun semua itu bukan karena Allah senang melihat umat-Nya menderita. Ia sedang membentuk sesuatu yang lebih besar daripada kenyamanan sesaat: karakter yang semakin serupa dengan Kristus dan kesaksian yang memuliakan nama-Nya.
Ada satu pelajaran penting yang sering terlupakan. Murid-murid melihat orang buta sebagai objek diskusi. Yesus melihatnya sebagai pribadi yang layak dikasihi.
Betapa sering kita juga lebih sibuk mencari penjelasan daripada memberikan pelukan.
Lebih mudah menghakimi daripada menemani.
Lebih cepat memberi nasihat daripada hadir dalam doa.
Padahal gereja dipanggil bukan menjadi ruang sidang yang menghukum orang yang terluka, melainkan rumah tempat kasih Kristus memulihkan mereka.
Pada akhirnya, mukjizat terbesar dalam Yohanes 9 bukan hanya mata yang terbuka.
Mukjizat terbesar adalah ketika seorang yang dahulu hidup dalam kegelapan akhirnya mengenal Sang Terang Dunia.
Sebab melihat secara fisik tidak selalu berarti mengenal Allah, tetapi mengenal Kristus akan membuka mata hati untuk melihat tujuan hidup yang sesungguhnya.
Mungkin hari ini kita belum memahami alasan di balik setiap luka yang kita alami.
Namun kita dapat mempercayai Pribadi yang memegang pena kehidupan kita.
Karena Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan air mata anak-anak-Nya.
Ia dapat mengubah luka menjadi kesaksian, kegagalan menjadi pembelajaran, kehilangan menjadi kedewasaan, dan penderitaan menjadi panggung di mana kasih serta kuasa-Nya dinyatakan kepada dunia.
Jangan hanya bertanya, “Mengapa aku?” Mulailah bertanya, “Tuhan, bagaimana Engkau ingin dimuliakan melalui hidupku?”
Sebab orang percaya tidak hidup berdasarkan apa yang dapat dipahami hari ini, tetapi berdasarkan siapa yang memegang hari esok.
Dan ketika Kristus menjadi pusat kehidupan kita, bahkan musim yang paling gelap pun dapat menjadi tempat lahirnya terang yang membawa banyak orang datang kepada-Nya.
“Karena penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya.” (2 Korintus 4:17)
Soli Deo Gloria.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
Alias Romo Kefas


