Dari Al Zaytun, Ribuan Anak Bangsa Gaungkan Semangat Persatuan dan Kemandirian Indonesia
Indramayu – Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dimaknai secara berbeda oleh Ma’had Al Zaytun. Bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, peringatan yang berlangsung di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Selasa (16/6/2026), menjadi panggung refleksi kebangsaan yang mempertemukan tokoh lintas agama, akademisi, praktisi pendidikan, unsur TNI, hingga masyarakat dari berbagai daerah dan negara.
Di hadapan lebih dari sepuluh ribu peserta, pesan yang mengemuka bukan hanya soal hijrah secara spiritual, tetapi juga hijrah menuju Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan mampu menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat. Tema “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global” menjadi benang merah yang menyatukan seluruh rangkaian kegiatan.
Ketua Panitia, Eji Anugrah, menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi terbesar bangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju apabila mampu menjaga persatuan dan menghadirkan sistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan memiliki jiwa kebangsaan yang kuat.
Berbagai tokoh yang hadir menyampaikan pandangan senada. Mereka menilai bahwa tantangan global saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut teknologi, ketahanan pangan, perubahan sosial, hingga kompetisi sumber daya manusia. Karena itu, persatuan nasional dinilai menjadi fondasi utama agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai dinamika dunia.
Suasana semakin menarik ketika sejumlah tokoh lintas agama menyampaikan pandangan mereka tentang pentingnya toleransi dan kebersamaan. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk membangun dialog yang sehat dan konstruktif demi kepentingan bangsa. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan kuat yang muncul dari peringatan 1 Syuro di Al Zaytun tahun ini.
Selain membahas pendidikan dan persatuan, isu ketahanan pangan juga menjadi sorotan. Sejumlah akademisi dan praktisi menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai kemandirian pangan apabila sumber daya alam yang melimpah mampu dikelola dengan baik dan didukung inovasi teknologi pertanian modern.
Sebagai puncak acara, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, menegaskan bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan manusia. Menurutnya, pendidikan yang terintegrasi dengan pembentukan karakter, nasionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemandirian ekonomi merupakan kunci untuk menyiapkan generasi masa depan Indonesia.
Di tengah derasnya arus globalisasi, peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya, tetapi bangsa yang mampu menjaga persatuan, menghargai keberagaman, dan membangun masa depan secara bersama-sama.
Peringatan tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni pergantian tahun. Dari Al Zaytun, lahir kembali seruan agar seluruh elemen bangsa memperkuat semangat gotong royong, menjaga harmoni dalam keberagaman, dan melangkah bersama menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan bermartabat.
Editor: Romo Kefas


