Takut Itu Manusiawi, Tetapi Jangan Jadikan Ketakutan Sebagai Tuan
Iman bukanlah hidup tanpa rasa takut, melainkan memilih mempercayai Tuhan lebih besar daripada ketakutan itu sendiri.
“Ketika aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.”
(Mazmur 56:4)
Ada sebuah kesalahpahaman yang sering berkembang di kalangan orang percaya: seolah-olah orang yang memiliki iman yang kuat tidak boleh merasa takut. Akibatnya, banyak orang berusaha menyembunyikan ketakutannya, berpura-pura kuat, atau merasa bersalah ketika menghadapi kecemasan dan kekhawatiran.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian.
Iman yang sejati bukanlah ketiadaan rasa takut. Iman yang sejati adalah keberanian untuk tetap berjalan bersama Tuhan meskipun hati sedang bergumul dengan ketakutan.
Daud pernah takut.
Elia pernah takut.
Yeremia pernah takut.
Para murid pernah takut.
Bahkan ketika menghadapi penderitaan yang besar, Yesus menunjukkan pergumulan yang sangat manusiawi di Taman Getsemani.
Jadi rasa takut bukanlah bukti bahwa seseorang jauh dari Tuhan. Yang berbahaya adalah ketika ketakutan menjadi lebih besar daripada kepercayaan kepada Tuhan.
Ketakutan Adalah Bayangan, Bukan Kenyataan Akhir
Sebagian besar ketakutan manusia sebenarnya hidup di masa depan.
Kita takut terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.
Takut gagal.
Takut ditolak.
Takut kehilangan.
Takut miskin.
Takut sakit.
Takut menghadapi masa depan.
Ketakutan sering kali seperti bayangan. Semakin kita fokus kepadanya, semakin besar ia terlihat. Namun bayangan tidak pernah memiliki kekuatan sebesar yang kita bayangkan.
Iblis sering menggunakan ketakutan untuk melumpuhkan langkah orang percaya.
Bukan dengan menghancurkan mereka secara langsung, tetapi dengan membuat mereka berhenti melangkah.
Sebab orang yang dikuasai ketakutan akan kehilangan keberanian untuk taat kepada Tuhan.
Ketika Petrus Tenggelam
Salah satu kisah yang paling menarik adalah ketika Petrus berjalan di atas air.
Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu melakukan sesuatu yang mustahil.
Namun ketika perhatiannya beralih kepada angin dan ombak, ia mulai tenggelam.
Perhatikan bahwa ombak itu sudah ada sejak awal.
Angin itu sudah ada sejak awal.
Yang berubah bukan keadaan di sekitar Petrus.
Yang berubah adalah fokusnya.
Demikian pula dalam kehidupan kita.
Sering kali masalah bukan menjadi lebih besar.
Tetapi perhatian kita kepada Tuhan menjadi lebih kecil.
Ketika mata hanya tertuju pada badai, ketakutan akan menguasai hati.
Namun ketika mata tertuju kepada Kristus, iman akan menemukan kekuatannya.
Tuhan Tidak Selalu Menghilangkan Badai
Banyak orang berdoa agar Tuhan menghilangkan semua masalah dalam hidup mereka.
Namun sering kali Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda.
Ia tidak selalu menenangkan badai di sekitar kita.
Kadang Ia menenangkan hati kita di tengah badai.
Ia tidak selalu mengubah keadaan dengan segera.
Tetapi Ia mengubah cara kita memandang keadaan.
Paulus tetap mengalami penjara.
Daniel tetap masuk ke gua singa.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap masuk ke perapian.
Namun mereka mengalami sesuatu yang lebih besar daripada mukjizat pembebasan.
Mereka mengalami kehadiran Tuhan.
Dan kehadiran Tuhan selalu lebih berharga daripada kenyamanan sementara.
Ketakutan dan Penguasaan Diri
Paulus berkata bahwa Allah tidak memberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.
Kata “ketertiban” atau penguasaan diri menunjukkan bahwa Tuhan tidak ingin kita hidup dikuasai oleh emosi dan kecemasan.
Ketakutan boleh datang mengetuk pintu hati.
Tetapi kita yang menentukan apakah akan membiarkannya masuk dan menguasai rumah kehidupan kita.
Iman bukanlah menyangkal kenyataan.
Iman adalah memandang kenyataan melalui kacamata kedaulatan Tuhan.
Orang yang beriman tetap melihat masalah.
Tetapi ia juga melihat tangan Tuhan yang bekerja di balik masalah itu.
Salib Membuktikan Bahwa Tuhan Mengerti Ketakutan Kita
Salah satu keindahan Injil adalah bahwa Yesus memahami pergumulan manusia.
Ia bukan Imam Besar yang jauh dan tidak peduli.
Ia pernah lapar.
Ia pernah lelah.
Ia pernah menangis.
Ia pernah mengalami tekanan yang sangat berat.
Karena itu ketika kita takut, kita datang kepada Tuhan yang mengerti.
Kita datang kepada Juruselamat yang tidak menghakimi kelemahan kita.
Sebaliknya, Ia menguatkan kita untuk terus berjalan.
Salib menunjukkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa.
Kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa kuasa Allah lebih besar daripada kematian.
Dan jika Allah telah mengalahkan dosa dan maut, tidak ada ketakutan dalam hidup kita yang terlalu besar bagi-Nya.
Jangan Jadikan Ketakutan Sebagai Kompas Hidup
Banyak orang mengambil keputusan berdasarkan ketakutan.
Mereka menolak panggilan Tuhan karena takut gagal.
Mereka menunda ketaatan karena takut kehilangan kenyamanan.
Mereka mengubur talenta karena takut menghadapi risiko.
Padahal ketakutan adalah penasihat yang buruk.
Jika Abraham mendengarkan ketakutannya, ia tidak akan meninggalkan negerinya.
Jika Musa mendengarkan ketakutannya, ia tidak akan memimpin Israel keluar dari Mesir.
Jika para rasul mendengarkan ketakutan mereka, Injil tidak akan sampai kepada dunia.
Orang percaya dipanggil untuk dipimpin oleh firman Tuhan, bukan oleh rasa takut.
Rasa takut adalah bagian dari perjalanan hidup manusia.
Namun Tuhan tidak pernah merancang ketakutan untuk mengendalikan hidup kita.
Ia mengizinkan kita mengalami ketakutan supaya kita belajar bergantung kepada-Nya.
Karena sering kali ketika kekuatan manusia berakhir, di situlah iman mulai bekerja.
Jangan malu mengakui ketakutanmu kepada Tuhan.
Jangan berpura-pura kuat.
Datanglah kepada-Nya dengan jujur.
Dan biarkan kasih-Nya menguatkan hatimu.
Sebab keberanian bukanlah ketika kita tidak lagi merasa takut.
Keberanian adalah ketika kita tetap melangkah dalam ketaatan meskipun rasa takut masih ada, karena kita percaya bahwa Tuhan berjalan di samping kita.
Hari ini mungkin ada badai yang sedang Anda hadapi.
Mungkin ada pergumulan yang membuat hati gelisah.
Tetapi ingatlah:
Ketakutan boleh datang, tetapi iman harus tetap memimpin.
Karena Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Dan ketika Tuhan berjalan bersama kita, tidak ada ketakutan yang lebih besar daripada kasih dan kuasa-Nya.
Soli Deo Gloria.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
Alias Romo Kefas


