Ketika Keluhan Menjadi Kebiasaan Hati
Belajar Percaya Saat Kehendak Tuhan Tidak Sesuai Keinginan Kita
Pusakailahi.com Setiap manusia memiliki kelemahan dan kebiasaan buruk. Ada yang terlihat kecil seperti mudah marah, terlalu banyak bicara, atau sulit mengendalikan emosi. Namun ada satu kebiasaan yang sering dianggap biasa, padahal perlahan dapat merusak kehidupan rohani seseorang: kebiasaan mengeluh.
Mengeluh biasanya muncul ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Saat doa belum dijawab, keadaan belum berubah, atau masalah terasa semakin berat, manusia cenderung bersungut-sungut. Bahkan tidak sedikit orang mulai mempertanyakan kasih Tuhan hanya karena kehendaknya sendiri belum terjadi.
Padahal teologi Kristen yang benar mengajarkan bahwa Tuhan bukan pelayan keinginan manusia. Tuhan adalah Allah yang berdaulat penuh atas hidup ini.
Sering kali manusia ingin Tuhan bekerja sesuai waktunya, caranya, dan keinginannya sendiri. Ketika itu tidak terjadi, hati mulai kecewa. Namun iman sejati bukanlah memaksa Tuhan mengikuti kehendak manusia, melainkan belajar tunduk kepada kehendak Tuhan yang sempurna.
Yesus sendiri memberi teladan ketika berdoa di Getsemani:
📖 “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Inilah inti kehidupan rohani yang dewasa: percaya bahwa kehendak Tuhan selalu lebih baik daripada keinginan manusia.
Mengeluh Membuat Hati Kehilangan Fokus
Bangsa Israel adalah contoh nyata bagaimana kebiasaan mengeluh dapat merusak hubungan dengan Tuhan. Mereka melihat mujizat besar:
- laut terbelah,
- manna turun dari langit,
- tiang awan dan tiang api menyertai mereka.
Namun ketika menghadapi kesulitan, mereka tetap bersungut-sungut.
Mereka lebih fokus pada masalah daripada pemeliharaan Tuhan. Akibatnya, hati mereka menjadi keras dan kehilangan rasa percaya.
Bukankah sering kali kita juga demikian?
Kita mudah mengingat:
- kekurangan,
- kegagalan,
- doa yang belum dijawab,
- dan masalah yang sedang dihadapi.
Tetapi kita lupa menghitung:
- nafas kehidupan,
- kesehatan,
- keluarga,
- pertolongan Tuhan di masa lalu,
- dan kasih setia Tuhan yang masih menjaga hidup kita sampai hari ini.
Padahal setiap hari kita hidup oleh anugerah Tuhan.
Bersyukur Adalah Tanda Iman
Bersyukur bukan berarti hidup tanpa persoalan. Bersyukur berarti tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika kita belum memahami rencana-Nya.
Orang yang dewasa rohani tidak hanya memuji Tuhan saat diberkati. Ia tetap percaya saat hidup sedang sulit.
Iman sejati berkata: “Tuhan, aku mungkin tidak mengerti semua yang terjadi, tetapi aku percaya Engkau tetap baik.”
Inilah perbedaan antara hati yang dipenuhi keluhan dan hati yang dipenuhi iman.
Keluhan membuat manusia:
- semakin pahit,
- kehilangan damai,
- dan mudah menyalahkan Tuhan.
Tetapi ucapan syukur membuat hati:
- lebih tenang,
- lebih kuat,
- dan lebih mampu melihat pemeliharaan Tuhan.
Tuhan Tidak Pernah Gagal Memelihara Umat-Nya
Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan, tetapi Tuhan selalu bekerja mengubah hati kita. Melalui proses hidup, Tuhan sedang membentuk:
- kesabaran,
- ketekunan,
- kerendahan hati,
- dan iman yang dewasa.
Karena itu jangan biarkan kebiasaan mengeluh menguasai hidup kita.
Belajarlah melihat hidup dari sudut pandang kasih karunia Tuhan. Apa yang kita miliki hari ini pun sebenarnya adalah anugerah yang tidak layak kita terima.
Jika kita mau menghitung berkat Tuhan satu demi satu, kita akan sadar bahwa kebaikan Tuhan jauh lebih besar daripada semua masalah yang sedang kita hadapi.
Belajar Percaya Dalam Segala Keadaan
Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil bukan untuk hidup dalam sungut-sungut, tetapi hidup dalam iman dan ucapan syukur.
Saat doa terasa belum dijawab, tetaplah percaya.
Saat keadaan belum berubah, tetaplah setia.
Saat hidup terasa berat, tetaplah bersandar kepada Tuhan.
Karena Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
📖 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah…”
— 1 Tesalonika 5:18
Kiranya hati kita tidak dipenuhi keluhan, tetapi dipenuhi iman, ucapan syukur, dan kepercayaan kepada Tuhan yang selalu setia.
Tuhan Yesus memberkati.
— Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
(Romo Kefas)


