“Segenggam ketenangan lebih baik daripada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”
Pengkhotbah 4:6
Ombak besar sering kita lihat menghantam bibir pantai. Suaranya menggelegar, gerakannya menggetarkan, dan kekuatannya mampu menarik perhatian siapa saja. Namun, semakin jauh kita berlayar ke tengah lautan, kita akan menemukan sesuatu yang berbeda. Air tampak lebih tenang, lebih damai, dan lebih stabil.
Mengapa demikian?
Karena ketenangan sering kali menjadi tanda kedalaman.
Laut yang dalam tidak mudah berguncang oleh angin yang lewat. Demikian pula kehidupan manusia. Semakin dewasa seseorang, semakin ia belajar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap persoalan yang datang.
Sebaliknya, banyak orang mudah tersulut oleh masalah-masalah kecil. Emosi mereka meledak hanya karena perkataan yang menyinggung, perlakuan yang tidak menyenangkan, atau keadaan yang tidak sesuai harapan. Bahkan tidak sedikit yang memilih membalas dendam demi memuaskan perasaan yang terluka.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur.”
Yesaya 57:20
Karena itu, belajarlah menjadi seperti air yang tenang.
Miliki kesabaran yang dalam seperti samudera. Saat orang lain memancing emosi kita, jangan terburu-buru bereaksi. Saat persoalan datang bertubi-tubi, jangan biarkan hati kita dikuasai kemarahan atau kepanikan.
Air memiliki kemampuan untuk memadamkan api. Begitu pula ketenangan memiliki kuasa untuk meredakan amarah, menyelesaikan konflik, dan membuka jalan keluar yang tidak terlihat oleh mereka yang sedang dikuasai emosi.
Orang yang tenang bukan berarti lemah.
Orang yang tenang bukan berarti menyerah.
Sebaliknya, ketenangan adalah bukti kekuatan batin yang mampu mengendalikan diri di tengah tekanan. Orang yang tenang tetap berpikir jernih ketika orang lain panik. Ia tetap berharap ketika orang lain putus asa. Ia tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika keadaan belum berubah.
Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan untuk mengasihi, mengampuni, dan bersabar. Karena itu jangan biarkan amarah menguasai hati kita lebih lama daripada kasih Tuhan yang tinggal di dalam kita.
Belajarlah untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan.
Orang yang kuat bukanlah mereka yang mampu mengalahkan banyak orang, melainkan mereka yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Orang yang hebat adalah orang yang mampu:
• Mengendalikan diri saat dikuasai amarah.
• Tetap tenang saat dipermalukan.
• Tetap tersenyum saat diremehkan.
• Tetap bersabar saat menghadapi pencobaan.
• Tetap bersyukur atas segala kekurangan yang dimilikinya.
Bukankah di dalam ketenangan ada kedamaian?
Dan di dalam kedamaian, kita dapat merasakan kehadiran Tuhan yang menghibur, menguatkan, dan menuntun setiap langkah kehidupan kita.
“TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”
Bilangan 6:26
Selamat menikmati akhir pekan dalam perkenan-Nya. STAY IN GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias. Kiranya Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan ilahi, jalan keluar ilahi, penyelesaian ilahi, dan pelipatgandaan ilahi dinyatakan dalam seluruh area kehidupan kita.
Abah Daniel


