PusakaIlahi.com Tidak semua kehancuran dimulai dari dosa besar. Kadang, semuanya berawal dari luka kecil yang dibiarkan tinggal terlalu lama di dalam hati.
Ibrani 12:15 memberikan peringatan yang sangat kuat:
“Jagalah supaya jangan tumbuh akar pahit.”
Akar pahit tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh diam-diam. Awalnya mungkin hanya kecewa, sakit hati, iri, penolakan, atau amarah yang tidak diselesaikan. Namun ketika semua itu dipendam tanpa dibawa kepada Tuhan, hati perlahan berubah keras. Dan tanpa disadari, kepahitan mulai menguasai hidup seseorang.
Esau adalah gambaran nyata tentang hal ini. Demi sepiring makanan, ia menjual hak kesulungannya. Ia memilih kenikmatan sesaat dan mengabaikan nilai rohani yang seharusnya dijaga. Keputusan yang terburu-buru itu akhirnya melahirkan penyesalan mendalam dan merusak hubungan keluarga.
Ironinya, banyak orang hari ini melakukan hal yang sama. Demi emosi sesaat, seseorang bisa menghancurkan relasi bertahun-tahun. Demi ego, orang kehilangan damai. Demi amarah, persaudaraan hancur.
Ada pribahasa Jawa yang sangat dalam maknanya:
“Ajining diri ana ing lathi.”
Artinya: Harga diri seseorang terlihat dari perkataannya.
Ketika hati dipenuhi kepahitan, perkataan pun berubah menjadi tajam. Orang yang terluka sering melukai orang lain tanpa sadar. Karena itu, akar pahit tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga mencemarkan banyak orang di sekitarnya.
Kepahitan adalah racun yang diminum sendiri tetapi berharap orang lain yang hancur.
Banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi di dalam hatinya penuh luka yang belum dibereskan. Mereka masih beribadah, masih tersenyum, bahkan masih melayani, tetapi diam-diam menyimpan amarah, dendam, dan kekecewaan.
Dan itulah bahaya terbesar: hati yang jauh dari kasih karunia Tuhan.
Penulis Ibrani mengingatkan agar jangan kehilangan anugerah Allah. Bukan karena Tuhan meninggalkan manusia, tetapi karena manusia sendiri memilih menjauh lewat ketidaktaatan dan hati yang keras.
Ada luka yang memang sulit dilupakan. Ada pengkhianatan yang membekas. Ada perkataan yang melukai sangat dalam. Namun memelihara kepahitan tidak pernah menyembuhkan apa pun. Pengampunan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi dapat menyelamatkan masa depan.
Pribahasa Jawa lain berkata:
“Sing sapa nandur, bakal ngundhuh.”
Artinya: Siapa menanam akan menuai.
Jika seseorang menanam amarah, ia akan menuai pertengkaran. Jika menanam kebencian, ia akan menuai kehancuran. Tetapi ketika seseorang menanam kasih, pengampunan, dan kerendahan hati, damai Tuhan akan bertumbuh dalam hidupnya.
Karena itu, jangan biarkan luka menjadi akar pahit. Cepatlah berdamai. Belajarlah mengampuni. Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan pergumulan hidup.
Sebab hati yang dipenuhi kasih karunia akan selalu lebih kuat daripada hati yang dikuasai kepahitan.
Jangan biarkan luka kecil tumbuh menjadi akar pahit
yang akhirnya menghancurkan hidupmu sendiri.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


