“Tuhan Tidak Pernah Salah Menulis Jalan Hidup Seseorang”
Berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi, 22 Juni 2026
Bogor – Ada orang yang mengenal Tuhan ketika hidupnya sedang baik-baik saja. Ada pula yang benar-benar mengenal kasih dan penyertaan-Nya justru ketika melewati lembah yang paling gelap. Bagi Kefas Hervin Devananda, S.Th., atau yang akrab disapa Romo Kefas, kehidupan adalah sebuah perjalanan iman yang ditulis Tuhan melalui proses, air mata, pengorbanan, dan kasih karunia.
Saat ditemui redaksi pada 22 Juni 2026, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-52, Romo Kefas tidak membuka percakapan dengan menceritakan jabatan, gelar, maupun pencapaian hidup. Ia justru mengawali kisahnya dari masa kecil yang penuh keterbatasan.
“Saya bukan lahir dari keluarga berada. Saya hanyalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak kecil saya belajar bahwa hidup bukan tentang meminta, tetapi tentang bertanggung jawab. Ketika teman-teman menikmati masa kecil mereka, saya sudah belajar membantu orang tua dan memikirkan bagaimana keluarga bisa tetap bertahan.”
Lahir di Jakarta, 22 Juni 1974, ia menghabiskan masa pertumbuhannya di Bekasi. Pendidikan dasar ditempuh di SDN Bekasi Jaya Indah, kemudian melanjutkan ke SMP Ananda Bekasi dan SMEA Patriot Bekasi. Kehidupan yang sederhana tidak pernah memadamkan semangatnya untuk belajar. Sebaliknya, keterbatasan justru membentuk karakter yang tangguh, mandiri, dan tidak mudah menyerah.
Sebelum dikenal sebagai rohaniwan dan jurnalis, Romo Kefas pernah bekerja sebagai staf accounting. Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa Tuhan sedang mempersiapkan jalan yang berbeda.
Kerinduan untuk melayani telah tumbuh sejak masih aktif di kalangan pemuda GKII El Shadday Bekasi. Panggilan itu semakin diteguhkan ketika ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Victory Jakarta, hingga akhirnya menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Teologi pada tahun 2012.
“Saya percaya Tuhan tidak pernah memanggil orang yang sempurna. Tuhan memakai orang-orang biasa yang bersedia dibentuk. Setiap air mata, setiap kegagalan, bahkan setiap penolakan adalah bagian dari sekolah kehidupan yang Tuhan izinkan.”
Namun Tuhan ternyata tidak hanya memanggilnya melayani dari balik mimbar. Ia juga dipanggil untuk menyuarakan kebenaran melalui dunia jurnalistik.
Kariernya dimulai sebagai wartawan di Fire Magazine, kemudian berlanjut ke Tabloid Bersih dan Tabloid Pelita Kota. Pengalaman panjang itu membawanya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara, sekaligus membangun sejumlah media sebagai ruang informasi, edukasi, dan kontrol sosial.
Baginya, menjadi wartawan bukan sekadar mengejar berita.
“Media harus menjadi suara bagi mereka yang tidak didengar. Wartawan bukan hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menjaga nurani masyarakat. Menulis adalah pelayanan ketika dilakukan dengan hati yang takut akan Tuhan.”
Di luar dunia jurnalistik, Romo Kefas aktif mengabdikan diri melalui berbagai organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua PD PEWARNA Indonesia Jawa Barat, Ketua Presidium Masyarakat Kristen Bekasi, serta Sekretaris Jenderal LSM AMTI. Dalam setiap peran itu, ia berusaha menghadirkan pelayanan yang nyata melalui advokasi, pendampingan masyarakat, dan pembelaan terhadap mereka yang membutuhkan keadilan.
Semangat pengabdiannya bahkan membawanya terjun ke dunia politik. Pada Pemilu 2024, ia maju sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari PSI untuk Daerah Pemilihan Kota Bekasi dan Kota Depok. Baginya, langkah itu bukan sekadar mengejar jabatan, tetapi bagian dari panggilan untuk memperjuangkan kesetaraan, perhatian terhadap guru agama minoritas di sekolah negeri, serta pemberdayaan pelaku UMKM melalui pemanfaatan teknologi.
Namun perjalanan hidupnya tidak selalu dipenuhi keberhasilan. Ada masa-masa ketika ia harus berjalan melewati lembah yang nyaris merenggut hidupnya.
Pada 11 Maret 2023, Romo Kefas menjadi korban pembegalan di kawasan Gunung Putri, Bogor. Serangan brutal dengan senjata tajam menyebabkan luka bacok dan sejumlah luka tusuk di tubuhnya. Dalam kondisi kritis, ia hanya bisa berserah kepada Tuhan.
Belum pulih sepenuhnya, pada September 2023 ia mengalami serangan jantung yang membuatnya harus menjalani perawatan intensif. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, dokter memutuskan melakukan pemasangan ring jantung pada 4 Oktober 2023.
Cobaan itu belum berakhir. Pada 4 Januari 2024, kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di ruas Tol Jagorawi. Sekali lagi ia merasakan betapa rapuhnya kehidupan manusia.
Saat mengenang semua peristiwa itu, Romo Kefas tidak berbicara tentang rasa dendam atau keputusasaan. Yang keluar dari bibirnya justru ungkapan syukur.
“Saya pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa semua ini terjadi. Tetapi semakin saya berjalan bersama-Nya, saya sadar bahwa Tuhan tidak sedang menghukum saya. Dia sedang membentuk saya. Luka-luka itu mengajarkan saya untuk lebih mengasihi, lebih memahami penderitaan orang lain, dan lebih bergantung kepada Tuhan.”
Baginya, kesaksian hidup bukanlah kisah seseorang yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang bagaimana Tuhan terus mengangkat seseorang setiap kali ia terpuruk.
“Saya percaya setiap luka memiliki tujuan. Tuhan tidak pernah membiarkan air mata kita jatuh sia-sia. Apa yang hari ini terasa sebagai penderitaan, suatu saat akan menjadi kesaksian yang menguatkan banyak orang.”
Di tengah semua proses itu, keluarga menjadi sumber kekuatan yang tidak tergantikan. Bersama istrinya, Tri Satini, dan putra mereka, Vickent Highlander, ia menemukan alasan untuk terus bangkit, melayani, dan berharap.
Baginya, pelayanan tidak dibatasi oleh gedung gereja ataupun mimbar. Pelayanan hadir ketika seseorang membela kebenaran, menolong yang lemah, menguatkan yang putus asa, dan tetap mengasihi meski pernah disakiti.
Menutup perbincangan dengan redaksi, Romo Kefas menyampaikan sebuah pesan yang menjadi pegangan hidupnya.
“Jangan pernah menyerah kepada keadaan. Selama Tuhan masih memberikan napas kehidupan, berarti masih ada rencana-Nya yang belum selesai. Kita mungkin tidak memahami jalan-Nya hari ini, tetapi suatu saat kita akan melihat bahwa setiap proses yang diizinkan-Nya selalu mendatangkan kebaikan. Hidup ini bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi tentang seberapa besar hidup kita menjadi berkat bagi orang lain.”
Percakapan itu berakhir sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Redaksi melihat bahwa kesaksian hidup Romo Kefas bukan hanya tentang perjalanan seorang rohaniwan atau jurnalis. Ini adalah kisah tentang seorang anak sulung yang ditempa oleh kehidupan, dibentuk oleh penderitaan, dipulihkan oleh kasih karunia, dan memilih mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan, membela kebenaran, serta menjadi berkat bagi sesama.
Di balik setiap luka yang pernah ia alami, Romo Kefas percaya ada tangan Tuhan yang tidak pernah melepaskan genggamannya. Dan selama Tuhan masih memberikan napas, ia yakin kisah hidupnya belum selesai ditulis.
“Sebab saya percaya, setiap proses yang Tuhan izinkan pasti memiliki tujuan. Jika hari ini saya masih hidup, itu karena Tuhan masih mempunyai pekerjaan yang harus saya kerjakan bagi kemuliaan nama-Nya dan bagi sesama.”
Ditulis berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi pada 22 Juni 2026.


