AYAH: WAJAH PERTAMA TENTANG ALLAH YANG DILIHAT SEORANG ANAK
Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah.” (1 Yohanes 3:1)
Seorang anak biasanya mengenal dunia melalui dua tangan: tangan ibunya yang memeluk dan tangan ayahnya yang menuntun. Sebelum ia memahami konsep tentang Allah, ia lebih dahulu belajar tentang kasih, keadilan, perlindungan, dan pengampunan melalui sosok ayah. Karena itulah, Alkitab menempatkan peran seorang ayah bukan sekadar sebagai kepala keluarga, tetapi sebagai pelayan Allah yang dipanggil untuk memantulkan karakter Sang Bapa kepada anak-anaknya.
Namun di sinilah letak pergumulan banyak keluarga. Tidak sedikit anak yang sulit memahami kasih Allah karena pengalaman mereka dengan ayah dipenuhi kemarahan, penolakan, kekerasan, atau ketidakhadiran. Akibatnya, ketika mendengar kata “Bapa”, yang muncul bukan rasa aman, melainkan luka. Injil tidak menutup mata terhadap kenyataan ini. Justru Injil memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang sempurna—Pribadi yang tidak berubah oleh kelemahan manusia.
Yesus Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa, tetapi juga untuk memulihkan identitas manusia sebagai anak-anak Allah. Di dalam Kristus, setiap orang percaya menerima hak untuk memanggil Allah dengan sebutan “Abba, ya Bapa” (Roma 8:15). Hubungan ini lahir bukan karena usaha manusia, melainkan karena anugerah Allah yang dinyatakan melalui karya penebusan Kristus di kayu salib.
Karena itu, panggilan seorang ayah Kristen bukanlah menjadi sosok yang ditakuti, melainkan menjadi teladan yang membawa anak semakin mengenal Kristus. Otoritas seorang ayah tidak diukur dari kerasnya suara atau banyaknya aturan, tetapi dari kesediaannya melayani keluarganya dengan kasih yang berakar pada firman Tuhan. Kepemimpinan yang sejati bukanlah soal menguasai, melainkan rela berkorban, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.
Firman Tuhan mengingatkan, “Hai bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Disiplin yang alkitabiah tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kasih. Kasih tanpa disiplin akan melahirkan generasi yang kehilangan arah, sedangkan disiplin tanpa kasih hanya akan meninggalkan luka. Di dalam Kristus, keduanya bertemu dalam kebenaran dan kasih karunia.
Warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta benda atau jabatan yang tinggi, melainkan iman yang hidup. Anak-anak mungkin akan melupakan hadiah yang pernah diberikan, tetapi mereka tidak akan melupakan ayah yang berlutut mendoakan mereka, yang setia membaca firman Tuhan, yang berani meminta maaf ketika bersalah, dan yang tetap teguh berjalan bersama Kristus di tengah badai kehidupan.
Pada akhirnya, setiap ayah hanyalah refleksi yang tidak sempurna dari Bapa Surgawi. Oleh sebab itu, seorang ayah tidak dipanggil untuk menjadi sempurna, tetapi untuk terus bertumbuh di dalam Kristus. Ketika seorang ayah hidup dalam pertobatan, kerendahan hati, dan kasih, ia sedang mengarahkan anak-anaknya kepada Yesus—satu-satunya Pribadi yang sempurna.
Kiranya setiap rumah tangga Kristen menjadi tempat di mana Injil tidak hanya diajarkan dengan kata-kata, tetapi juga diwujudkan melalui kehidupan. Sebab “Alkitab” pertama yang dibaca seorang anak sering kali bukanlah kitab yang dicetak di atas kertas, melainkan kehidupan ayah dan ibunya.
Soli Deo Gloria — Kemuliaan hanya bagi Allah.


