PusakaIlahi.com
Mazmur 23:6
“Kebaikan dan kasih setia belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku…”
Kita sering berkata:
“Tuhan itu baik.”
Tapi jujur saja…
kalimat itu paling mudah diucapkan saat hidup sedang enak.
Saat doa dijawab.
Saat keadaan lancar.
Saat semuanya terasa sesuai harapan.
Namun coba tanya diri sendiri:
Masihkah kita berkata “Tuhan itu baik”
ketika hidup mulai berantakan?
Tanpa sadar, banyak orang punya iman seperti ini:
- Hidup baik → Tuhan baik
- Hidup sulit → mulai ragu
Kita tidak mengatakannya secara terang-terangan,
tetapi terlihat dari cara kita bereaksi.
Saat masalah datang,
kita mulai bertanya:
“Kenapa Tuhan izinkan ini?”
Seolah-olah kebaikan Tuhan harus selalu terasa nyaman.
Mazmur 23 bukan ditulis dari kehidupan yang santai.
Daud tahu rasanya:
- dikejar untuk dibunuh
- dikhianati
- hidup dalam tekanan
Namun di tengah semua itu, ia tetap berkata:
“Kebaikan dan kasih setia Tuhan mengikuti aku seumur hidup.”
Perhatikan:
bukan “kadang-kadang”,
bukan “saat tertentu”,
tetapi seumur hidup.
Ini bagian yang sering kita tidak suka.
Kita ingin kebaikan Tuhan = hidup mudah.
Padahal kenyataannya:
Tuhan juga bekerja lewat proses yang tidak nyaman.
Lewat tekanan.
Lewat kegagalan.
Lewat situasi yang membentuk kita.
Bukan untuk menghancurkan,
tetapi untuk menguatkan.
Masalahnya bukan Tuhan yang berubah.
Masalahnya adalah cara kita melihat.
Kita menilai Tuhan dari keadaan,
padahal seharusnya kita melihat keadaan dari Tuhan.
Saat hidup sedang sulit,
jangan ubah kalimat ini:
“Tuhan itu baik.”
Bukan karena kita merasa,
tetapi karena kita percaya.
Kalau hari ini hidupmu tidak baik-baik saja,
ingat ini:
Tuhan tidak pernah berhenti menjadi baik—
yang berubah hanyalah situasi kita, bukan Dia.
Bukan kadang-kadang Tuhan baik.
Tuhan baik—selamanya.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)
