PusakaIlahi.com
Saat Jemaat Juga Ikut Menciptakan “Injil Transaksi”
Mudah sekali menunjuk mimbar.
Mudah sekali menyalahkan pendeta.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur:
apakah semua ini hanya salah mereka?
Atau… tanpa sadar, jemaat juga ikut membentuk sistem yang sama?
Kita sering mengkritik ketika pelayanan terlalu menekankan uang. Ketika memberi dikaitkan dengan berkat. Ketika mimbar terdengar seperti sedang “menjual harapan.”
Namun di sisi lain, kita juga hidup dalam pola pikir yang sama.
Kita datang dengan ekspektasi.
Kita memberi—lalu menunggu hasil.
Kita menabur—lalu menghitung kembali.
Dan mungkin tanpa sadar, kita juga bertanya:
“Kalau saya sudah memberi, kenapa hidup saya belum berubah?”
Di titik itu, masalahnya bukan lagi di mimbar.
Tetapi sudah masuk ke dalam hati.
Karena selama jemaat masih melihat memberi sebagai jalan untuk mendapatkan sesuatu, maka akan selalu ada ruang bagi siapa pun untuk mengajarkannya seperti itu.
Permintaan menciptakan penawaran.
Ekspektasi menciptakan narasi.
Dan ketika banyak orang ingin “iman yang menghasilkan,” maka akan selalu ada suara yang menawarkan “cara mendapatkannya.”
Padahal Alkitab tidak pernah menempatkan memberi sebagai alat transaksi.
Dalam 2 Korintus 9:7, jelas dikatakan bahwa memberi harus lahir dari kerelaan, bukan tekanan. Artinya, bahkan tanpa dorongan dari mimbar pun, hati manusia tetap bisa tergelincir jika motivasinya tidak dijaga.
Yesus juga mengingatkan dalam Matius 6:33 untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu—bukan berkatnya, bukan hasilnya, bukan keuntungannya.
Tetapi seringkali yang kita kejar justru kebalikannya.
Kita ingin berkat,
lalu mencari Tuhan.
Kita ingin hasil,
baru bicara iman.
Dan ketika pola ini menjadi umum, maka mimbar hanya memperkuat apa yang sudah ada—bukan menciptakan dari nol.
Inilah bagian yang tidak nyaman:
Bukan hanya ada “pendeta perpuluhan,”
tetapi juga ada “jemaat perhitungan.”
Jemaat yang setia memberi—
tetapi dengan harapan tersembunyi.
Jemaat yang rajin menabur—
tetapi diam-diam menunggu imbal balik.
Jemaat yang terlihat rohani—
tetapi hatinya sedang bernegosiasi.
Dan selama pola ini masih hidup, kritik terhadap mimbar tidak akan pernah benar-benar menyelesaikan masalah.
Karena akar persoalannya bukan hanya sistem,
tetapi cara berpikir.
Lalu harus bagaimana?
Bukan dengan saling menyalahkan.
Tetapi dengan sama-sama kembali.
Pendeta kembali kepada panggilan sebagai penjaga jiwa, bukan penggerak finansial.
Jemaat kembali kepada iman yang tulus, bukan iman yang penuh hitungan.
Karena memberi yang benar tidak lahir dari janji berkat,
tetapi dari pengenalan akan kasih.
Dan iman yang sehat tidak bertanya,
“apa yang saya dapat?”
melainkan,
“apa yang bisa saya berikan?”
Jika tidak, kita bisa terus berbicara tentang kemurnian pelayanan—
sementara tanpa sadar,
kita sendiri ikut menjaga sistem yang sama tetap hidup.


