Pusakailahi.com
Ketika Iman Tidak Cukup Hanya Dipahami
Ibrani 12:24
“Kamu sudah datang kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”
Ada banyak orang yang tahu tentang Yesus,
tetapi tidak pernah benar-benar datang kepada-Nya.
Mereka mengenal ajaran-Nya,
mengerti tentang salib,
bahkan bisa menjelaskan tentang pengampunan dosa.
Namun semua itu berhenti di pikiran—
tidak pernah menjadi tempat mereka bersandar.
Inilah perbedaan yang sering tidak disadari:
mengetahui bukan berarti datang.
Datang kepada darah Yesus bukan soal pengetahuan,
tetapi soal penyerahan.
Seseorang bisa memahami doktrin dengan benar,
tetapi tetap hidup dalam beban dosa.
Sebaliknya, orang yang benar-benar datang kepada Kristus
datang tanpa membawa apa-apa—
hanya dengan kesadaran bahwa dirinya tidak mampu menyelamatkan diri.
Ia datang sebagai orang yang bersalah,
tanpa pembelaan,
tanpa alasan,
tanpa kekuatan.
Dan di situlah Injil menjadi nyata.
Suara yang Tidak Bisa Diabaikan
Alkitab berkata bahwa darah Yesus “berbicara”.
Bukan secara harfiah,
tetapi secara rohani—
menyatakan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh usaha manusia.
Jika darah Habel berbicara tentang keadilan yang menuntut hukuman,
maka darah Yesus berbicara tentang kasih yang menyediakan pengampunan.
Ia tidak menuduh,
tetapi membenarkan.
Ia tidak menuntut balasan,
tetapi memberikan keselamatan.
Dan setiap orang yang datang kepada-Nya
akan mendengar satu pesan yang sama:
“Sudah selesai.”
Datang Bukan Sekali, tetapi Seumur Hidup
Datang kepada Kristus bukanlah satu peristiwa masa lalu.
Ia adalah pola hidup.
Orang yang sungguh datang kepada Yesus
akan terus kembali kepada-Nya.
Bukan karena ragu,
tetapi karena sadar—
bahwa tanpa Dia, kita tidak memiliki apa-apa.
Kita datang bukan hanya saat jatuh,
tetapi setiap hari.
Bukan hanya saat lemah,
tetapi dalam setiap langkah hidup.
Karena iman sejati tidak berdiri pada pengalaman lama,
tetapi pada relasi yang terus diperbarui.
Bahaya Iman yang Berhenti di Masa Lalu
Ada orang yang berkata,
“Aku sudah pernah percaya.”
Namun hidupnya hari ini tidak lagi bergantung pada Kristus.
Tidak ada kerinduan untuk datang,
tidak ada kesadaran akan kebutuhan akan anugerah,
tidak ada hubungan yang hidup.
Ini bukan soal kehilangan pengetahuan,
tetapi kehilangan arah.
Iman yang sejati tidak pernah berhenti di masa lalu.
Ia terus bergerak, terus datang, terus melekat pada Kristus.
Penutup yang Mengajak Jujur
Pertanyaannya bukan:
Apakah kita tahu tentang Yesus?
Tetapi:
Apakah kita sungguh datang kepada-Nya?
Karena pada akhirnya,
yang menyelamatkan bukanlah apa yang kita ketahui,
melainkan kepada siapa kita datang.
Penegasan
Keselamatan tidak ditemukan dalam pengetahuan tentang Kristus,
tetapi dalam datang dan hidup di dalam Dia.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)
