KUTAI BARAT – Di sebuah kampung yang jauh dari gemerlap kota, suara hati masyarakat terdengar jujur dan tanpa polesan. Kampung Eheng, Kecamatan Barong Tongkok, menjadi saksi bagaimana harapan sederhana—lampu jalan, air bersih, dan pendidikan—bertemu dengan panggilan pelayanan melalui kegiatan reses bertajuk “Besempekat” yang digelar oleh Anggota DPRD Kalimantan Timur, .
Namun kali ini, cerita yang lahir bukan sekadar laporan kegiatan. Ini adalah kisah tentang iman yang diuji dalam realita sosial.

Ketika Gelap Tidak Hanya Soal Jalan
Permintaan Penerangan Jalan Umum (PJU) kembali menjadi suara mayoritas di . Jalan yang gelap bukan hanya menghambat aktivitas, tetapi juga menyisakan rasa was-was.
Sebagian usulan memang sudah mulai diproses. Tapi di Kampung Eheng, langkah itu masih tertahan—bukan karena tidak diperjuangkan, melainkan karena administrasi yang belum lengkap.
Di titik ini, kita diingatkan pada kebenaran sederhana namun dalam:
— “Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Aspirasi tanpa tindakan hanyalah suara yang menggantung.
Air Bersih: Antara Kebutuhan dan Kerinduan
Lebih dari sekadar lampu, warga Eheng menghadapi persoalan yang lebih mendasar—air bersih. Hingga hari ini, mereka masih bergantung pada mesin air pribadi di tiap rumah.
Di balik keterbatasan itu, ada kerinduan yang sama: hidup yang lebih layak, seperti daerah lain yang airnya sudah mengalir langsung ke rumah.
Firman Tuhan berkata dalam :
“Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus…”
Ayat ini bukan hanya janji rohani, tetapi juga panggilan bagi manusia untuk menjadi saluran berkat bagi sesamanya.
Pendidikan: Harapan yang Menunggu Jalan
Usulan pembangunan SMA kembali mengemuka. Bahkan muncul gagasan segar: sekolah berbasis perkebunan yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Meski terkendala jarak dengan sekolah yang sudah ada, harapan belum padam. Terlebih, warga menunjukkan keseriusan dengan kesiapan menghibahkan lahan.
Ini bukan sekadar pembangunan fisik—ini adalah perjuangan masa depan generasi.
Seperti tertulis dalam :
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya…”
Besempekat: Lebih dari Program, Ini Tentang Hati
Yonavia menegaskan bahwa Besempekat bukan hanya agenda seremonial, melainkan komitmen untuk kembali, mendengar, dan memastikan aspirasi tidak berhenti di catatan.
Namun ia juga menyampaikan pesan yang tidak bisa diabaikan:
perubahan membutuhkan kolaborasi.
Proposal harus diajukan. Data harus dilengkapi. Sistem harus diikuti.
Karena Tuhan bekerja melalui keteraturan—bukan kekacauan.
Dari Kampung Eheng, ada pesan yang menggugah bagi semua:
- Pelayanan bukan hanya di gereja, tetapi di tengah kebutuhan masyarakat
- Iman bukan hanya didengar, tetapi dikerjakan
- Dan kasih bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan
Seperti tertulis dalam :
“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Di Eheng, kita melihat kenyataan yang tidak selalu nyaman—tetapi justru di situlah iman diuji.
Karena terang tidak akan berarti jika tidak dinyalakan.
Air tidak akan mengalir jika tidak diperjuangkan.
Dan perubahan tidak akan terjadi jika hanya berhenti pada kata.
Pertanyaannya: kita mau jadi penonton… atau bagian dari jawaban?


