PusakaIlahi.com
Dari Meja RedaksiĀ
Di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan beragama yang semakin kompleks, gereja diharapkan tetap menjadi ruang yang menghadirkan keteduhan, kebenaran, dan arah moral. Sebagai komunitas iman, gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga penjaga nilai-nilai spiritual yang memberi terang bagi masyarakat.
Namun dalam perkembangan yang terjadi, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian bersama. Di balik aktivitas gereja yang tetap berjalanāibadah yang ramai, program pelayanan yang terus berlangsung, dan struktur organisasi yang tampak tertataāterdapat dinamika lain yang tidak bisa diabaikan.
Pertanyaannya menjadi semakin relevan:
apakah gereja masih berpusat pada firman Tuhan, atau perlahan bergeser menjadi pusat kekuasaan?
Fenomena ini tidak selalu tampak secara terbuka. Namun indikasinya mulai terasa.
Dalam beberapa konteks, proses pemilihan pemimpin tidak lagi sepenuhnya mencerminkan pergumulan rohani, tetapi mulai diwarnai oleh manuver, dukungan berbasis kepentingan, serta kompromi yang mengaburkan nilai.
Padahal firman Tuhan mengingatkan:
āJanganlah kamu turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahā¦ā (Efesus 5:11)
Ketika keputusan tidak lagi lahir dari firman,
melainkan dari tekanan dan kepentingan,
maka arah pelayanan pun mulai bergeser.
Yang membuat situasi ini semakin kompleks adalah cara ia dibungkus.
Segala sesuatu tetap disampaikan dalam bahasa rohani.
Istilah seperti āvisi Tuhanā, āhasil doaā, dan ākesepakatan bersamaā tetap digunakan.
Namun di balik itu, tidak jarang terdapat dinamika lain:
lobi, tarik-menarik pengaruh, bahkan pembentukan kelompok.
Alkitab telah mengingatkan:
āBarangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan.ā (Matius 20:26)
Ketika prinsip ini bergeser, gereja berisiko meniru pola duniaā
bukan lagi pola Kerajaan Allah.
Pergeseran ini membawa dampak yang nyata.
Di tingkat internal, muncul polarisasi.
Kelompok terbentuk.
Relasi terganggu.
Padahal Yesus berdoa:
āSupaya mereka semua menjadi satuā¦ā (Yohanes 17:21)
Ketika kesatuan digantikan oleh kepentingan,
gereja kehilangan salah satu esensinya.
Di sisi lain, kepercayaan jemaat perlahan terkikis.
Yang terlihat tetap berjalan,
namun yang dirasakan⦠mulai kosong.
Dalam iman Kristen, firman Tuhan adalah dasar utama.
āFirman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.ā (Mazmur 119:105)
Namun ketika firman tidak lagi menjadi fondasi,
melainkan hanya menjadi pelengkap,
maka arah pelayanan akan mudah menyimpang.
Ini bukan sekadar persoalan organisasi.
Ini adalah persoalan arah rohani.
Yesus tidak pernah membangun kekuasaan duniawi.
Ia tidak mencari pengaruh.
Ia tidak memanfaatkan posisi.
Ia berkata:
āKerajaan-Ku bukan dari dunia ini.ā (Yohanes 18:36)
Ia memilih salib, bukan tahta.
Ini menjadi standar yang jelas:
gereja dipanggil untuk melayani, bukan menguasai.
Situasi ini mengundang refleksi bersama.
Apakah sinode masih dipimpin oleh firman Tuhan?
Ataukah sudah mulai dipengaruhi oleh kepentingan manusia?
Apakah keputusan lahir dari doa yang murni?
Ataukah dari tekanan yang tidak terlihat?
āUjilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.ā (1 Tesalonika 5:21)
Gereja bukan milik manusia.
Gereja adalah milik Kristus.
āDialah kepala tubuh, yaitu jemaat.ā (Kolose 1:18)
Ketika gereja kehilangan firman sebagai pusatnya,
yang hilang bukan hanya arahā
tetapi identitas.
Fenomena yang terjadi tidak selalu dapat disederhanakan sebagai kesalahan satu pihak.
Ia merupakan cerminan dari dinamika yang lebih luasātentang bagaimana manusia merespons kepercayaan, tanggung jawab, dan bahkan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya.
Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar penilaian,
melainkan kejujuran untuk melihat kembali arah.
Bukan untuk mencari siapa yang salah,
tetapi untuk memastikan apa yang benar.
Karena pada akhirnya,
yang dipertaruhkan bukan sekadar struktur atau posisi,
melainkan kemurnian panggilan gereja itu sendiri.
Gereja tidak kehilangan kekuatan karena tekanan dari luar,
melainkan ketika perlahan menjauh dari pusatnya sendiri.
Dan ketika pusat itu kembali kepada firman,
harapan untuk pemulihan akan selalu terbuka.


