KALIMANTAN TIMUR – Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk politik yang kian kompleks, satu pesan penting kembali digaungkan: demokrasi yang sehat dimulai dari masyarakat yang cerdas secara politik.

Melalui kegiatan “Penguatan Demokrasi Daerah ke-3: Literasi Politik untuk Kemajuan Demokrasi Daerah”, Anggota DPRD Kalimantan Timur, Yonavia, menegaskan bahwa literasi politik bukan sekadar pengetahuan—tetapi tanggung jawab moral dan spiritual sebagai warga negara.
Di Tengah Banjir Informasi, Iman dan Akal Harus Sejalan
Dalam pemaparannya, Yonavia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama di era media sosial yang penuh dengan hoaks.
“Jangan cepat percaya. Saring sebelum sharing. Banyak informasi yang tidak jelas, dan masyarakat sering terpancing,” tegasnya, Sabtu (11/4/2026).
Pesan ini selaras dengan prinsip kebenaran dalam iman:
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21)
Dalam konteks demokrasi, iman tidak meniadakan akal, tetapi justru menuntun untuk berpikir jernih dan bijaksana.
Literasi Politik: Lebih dari Sekadar Pengetahuan
Literasi politik bukan hanya soal memahami sistem pemerintahan atau mengenal lembaga seperti DPRD. Ia mencakup kesadaran, sikap, hingga keberanian untuk terlibat aktif dalam kehidupan demokrasi.
Di Kalimantan Timur, hal ini menjadi semakin krusial. Posisi strategis sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) membuat dinamika politik semakin kompleks dan penuh tantangan.
Tanpa literasi yang memadai, masyarakat berisiko:
- Mudah terprovokasi
- Terjebak dalam misinformasi
- Bahkan menjadi apatis terhadap proses demokrasi
Padahal, demokrasi membutuhkan partisipasi yang sadar—bukan sekadar ramai saat pemilu.
Tantangan Nyata: Hoaks, Apatisme, dan Minimnya Edukasi
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa literasi politik di Kaltim masih menghadapi berbagai hambatan:
- Pemahaman masyarakat tentang fungsi lembaga legislatif masih terbatas
- Partisipasi politik di wilayah pedalaman belum merata
- Hoaks menyebar cepat melalui media sosial
- Generasi muda mulai kehilangan minat terhadap politik
Kondisi ini menjadi alarm serius. Sebab tanpa kesadaran politik, demokrasi bisa kehilangan arah.
“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah.” (Hosea 4:6)
Ketidaktahuan bukan sekadar kelemahan—tetapi bisa menjadi pintu kehancuran sosial.
Membangun Demokrasi sebagai Bentuk Pelayanan
Upaya memperkuat literasi politik tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak:
- Pemerintah menghadirkan pendidikan politik yang berkelanjutan
- Partai politik menjalankan kaderisasi yang sehat
- Media menyajikan informasi yang akurat dan membangun
- Lembaga pendidikan menanamkan kesadaran demokrasi sejak dini
- Masyarakat aktif berdiskusi dan melawan hoaks
Karena sejatinya, berpartisipasi dalam demokrasi adalah bagian dari tanggung jawab iman untuk menghadirkan keadilan dan kebenaran di tengah masyarakat.
Memilih dengan Hati Nurani, Bukan Transaksi
Yonavia juga menekankan pentingnya memilih pemimpin berdasarkan integritas, bukan karena iming-iming sesaat.
Keputusan politik adalah cerminan nilai yang kita pegang.
“Jika orang benar bertambah banyak, bersukacitalah rakyat.” (Amsal 29:2)
Dari Kalimantan Timur, satu pesan menggema:
Demokrasi bukan hanya soal memilih—
tetapi tentang bagaimana kita berpikir, menilai, dan bertindak sebagai warga yang bertanggung jawab.
Literasi politik bukan sekadar kecerdasan,
melainkan kedewasaan iman.
Karena bangsa yang kuat bukan hanya yang banyak bersuara—
tetapi yang tahu kebenaran dan berani berdiri di atasnya.


