PusakaIlahi.com
Ada satu kalimat dalam Alkitab yang sangat kuat, tetapi sering kita lewatkan begitu saja:
“Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak.” (Yesaya 53:12)
Coba bayangkan ini.
Yesus itu tidak pernah berbuat dosa. Tidak pernah berbohong. Tidak pernah menyakiti orang. Hidup-Nya sempurna. Tetapi ketika Ia datang ke dunia, justru Ia diperlakukan seperti penjahat.
Ditangkap. Dihakimi. Disalibkan.
Seolah-olah Ia adalah orang bersalah.
Pertanyaannya: kenapa?
Jawabannya sederhana, tetapi sangat dalam:
karena Dia mengambil tempat kita.
Kita yang seharusnya menerima hukuman.
Kita yang seharusnya menanggung akibat dosa.
Tetapi Yesus memilih untuk berdiri di posisi itu.
Ia “masuk ke daftar orang berdosa” supaya kita bisa keluar dari daftar itu.
Ini bukan sekadar cerita sedih. Ini adalah kabar terbaik yang pernah ada.
Karena di salib terjadi sesuatu yang luar biasa:
- Dosa kita dipindahkan kepada Yesus
- Kebenaran Yesus diberikan kepada kita
Artinya, ketika Tuhan melihat kita hari ini, bukan lagi dosa kita yang dilihat, tetapi kebenaran Kristus yang menutupi hidup kita.
Inilah yang membuat kekristenan berbeda.
Keselamatan bukan soal kita menjadi cukup baik untuk Tuhan.
Tetapi soal Tuhan yang sudah lebih dulu menyelamatkan kita.
Masalahnya, banyak orang masih hidup seolah-olah mereka belum diampuni.
Masih merasa tidak layak.
Masih terjebak rasa bersalah.
Masih takut datang kepada Tuhan.
Padahal Yesus sudah melakukan semuanya.
Ia bukan hanya mati untuk orang baik.
Ia mati untuk orang berdosa—termasuk kita.
Karena itu, kita tidak perlu lari dari Tuhan saat jatuh. Justru kita harus datang.
Tidak perlu menunggu jadi sempurna dulu.
Tidak perlu pura-pura kuat.
Datang saja apa adanya.
Karena Yesus yang pernah “dihitung sebagai orang berdosa” itu, sekarang justru membuka jalan supaya kita bisa diterima sebagai anak-anak Allah.
Hari ini, pertanyaannya sederhana:
Kalau Yesus sudah sejauh itu mengasihi kita,
masihkah kita mau menjauh dari-Nya?
Yesus mengambil tempat kita, supaya kita bisa mengambil tempat di hati-Nya.
Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
(Jurnalis, Penggiat Budaya, Aktivis, serta Pelayan Penginjilan di salah satu sinode gereja di Indonesia)


