HARI INI ADALAH MILIK TUHAN
“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedangkan kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”
(Yakobus 4:13-14a)
Manusia memiliki kecenderungan untuk hidup seolah-olah dirinya mengendalikan masa depan. Kita membuat rencana, menyusun target, menghitung peluang, bahkan terkadang merasa yakin bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai keinginan kita. Tidak ada yang salah dengan perencanaan. Justru Alkitab mengajarkan pentingnya hikmat dan tanggung jawab dalam mengelola kehidupan. Namun persoalannya muncul ketika manusia mulai menempatkan dirinya sebagai pusat kendali hidup dan melupakan kedaulatan Allah.
Yakobus menegur sikap hati yang terlalu percaya pada kemampuan sendiri. Ia tidak sedang melarang orang bekerja, berdagang, atau membuat rencana. Yang dikoreksi adalah kesombongan tersembunyi yang menganggap masa depan berada di tangan manusia. Padahal hidup kita begitu rapuh. Yakobus menggambarkannya seperti uap yang sebentar terlihat lalu lenyap.
Kebenaran ini bukan dimaksudkan untuk membuat orang percaya hidup dalam ketakutan, melainkan dalam ketergantungan kepada Tuhan. Orang Kristen tidak hidup dengan kecemasan terhadap hari esok, tetapi juga tidak hidup dengan kesombongan terhadap hari esok. Kita berjalan dalam iman kepada Allah yang berdaulat atas waktu, sejarah, dan seluruh kehidupan manusia.
Sering kali kita berkata, “Nanti kalau ada waktu saya akan melayani Tuhan.” Atau, “Kalau keadaan sudah lebih baik, saya akan hidup sungguh-sungguh.” Bahkan ada yang berkata, “Besok saya akan bertobat.” Padahal tidak seorang pun memiliki jaminan tentang hari esok. Yang kita miliki hanyalah kesempatan yang Tuhan berikan hari ini.
Karena itu, panggilan Injil selalu bersifat sekarang. Jika ada dosa yang harus ditinggalkan, tinggalkan hari ini. Jika ada hubungan yang perlu dipulihkan, pulihkan hari ini. Jika ada pelayanan yang dapat dilakukan, lakukan hari ini. Jika ada kesempatan untuk menjadi berkat, jadilah berkat hari ini.
Menunda ketaatan sering kali menjadi cara halus manusia menolak kehendak Allah. Banyak orang tidak berkata “tidak” kepada Tuhan, tetapi mereka terus berkata “nanti”. Padahal di mata Tuhan, ketaatan yang ditunda dapat menjadi kesempatan yang hilang.
Di sisi lain, hidup dalam penyerahan kepada Tuhan bukan berarti pasif dan tanpa perencanaan. Orang percaya tetap bekerja keras, belajar, membangun usaha, melayani, dan mempersiapkan masa depan. Namun semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa keberhasilan sejati bukan ditentukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh anugerah Tuhan.
Sikap yang benar adalah seperti yang diajarkan Yakobus: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yakobus 4:15). Kalimat ini bukan sekadar ungkapan religius, tetapi pengakuan bahwa hidup kita sepenuhnya berada dalam tangan Allah.
Hari ini adalah pemberian Tuhan. Hari ini adalah kesempatan untuk mengasihi, melayani, mengampuni, dan menaati-Nya. Kita tidak dipanggil untuk mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan, tetapi juga tidak dipanggil untuk menunda tanggung jawab rohani kita.
Masa depan memang belum kita lihat, tetapi Tuhan sudah ada di sana. Karena itu, orang percaya dapat melangkah dengan tenang, bekerja dengan setia, dan hidup dengan penuh pengharapan.
Jangan menunggu hari yang lebih baik untuk hidup benar. Jangan menunggu keadaan sempurna untuk taat kepada Tuhan. Sebab waktu terbaik untuk melakukan kehendak Allah bukanlah besok.
Waktu terbaik itu adalah hari ini.
Refleksi
- Apakah saya sedang menunda suatu ketaatan yang Tuhan sudah nyatakan kepada saya?
- Apakah saya lebih percaya pada rencana saya daripada pada kehendak Tuhan?
- Apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk memuliakan Tuhan?
Doa
Tuhan, ajar aku menghargai setiap hari yang Engkau berikan. Jauhkan aku dari kesombongan yang merasa mampu mengendalikan masa depan, dan lepaskan aku dari ketakutan yang membuatku ragu melangkah. Berikan aku hati yang taat, sehingga hari ini aku dapat hidup sesuai kehendak-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Yesus Kristus. Amin.
GBU
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


