PusakaIlahi.com
Di era digital, gereja tidak lagi hanya berdiri di atas mimbar—ia kini hidup di layar. Setiap pernyataan, setiap respons, setiap konflik, semuanya terekam, tersebar, dan dinilai. Dan di tengah arus itu, satu pertanyaan besar muncul: apakah gereja masih memancarkan Kristus, atau justru sedang sibuk mempertontonkan dirinya sendiri?
Fenomena yang terjadi hari ini bukan sekadar perbedaan pendapat. Ini adalah pergeseran budaya. Ketika pemimpin rohani mulai berdebat secara terbuka di ruang publik, ketika kata-kata yang keluar lebih tajam daripada membangun, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi pribadi—tetapi wibawa rohani itu sendiri.
Padahal, Yesus tidak pernah membangun pelayanan-Nya di atas panggung popularitas. Ia memilih jalan yang sepi, jalan yang sempit, bahkan jalan penderitaan.
“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…” (Markus 10:45)
Namun hari ini, banyak yang tanpa sadar mengganti “salib” dengan “panggung”. Pelayanan bergeser menjadi performa. Kepemimpinan berubah menjadi pencitraan. Dan kebenaran sering kalah oleh kebutuhan untuk terlihat benar.
Inilah krisis yang sebenarnya: bukan krisis struktur, tetapi krisis karakter.
Ketika jabatan dipertahankan dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kasih, ketika perbedaan direspons dengan serangan, maka gereja sedang berjalan menjauh dari teladan Kristus.
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Matius 15:8)
Yang lebih mengkhawatirkan, jemaat—terutama generasi muda—tidak lagi diam. Mereka melihat, menilai, dan mulai mempertanyakan. Mereka tidak hanya mendengar khotbah, tetapi mengamati kehidupan. Dan ketika mereka menemukan ketidaksinkronan antara kata dan tindakan, yang lahir bukan lagi hormat, tetapi keraguan.
Di sinilah gereja sedang diuji secara nyata.
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak memimpin dengan tekanan, tetapi dengan transformasi.
“Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Matius 4:19)
Ia tidak menguasai, tetapi membentuk. Ia tidak meninggikan diri, tetapi merendahkan diri.
“Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…” (Filipi 2:8)
Inilah esensi kepemimpinan sejati: bukan tentang siapa yang paling kuat bersuara, tetapi siapa yang paling setia mencerminkan Kristus.
Namun realitanya, banyak konflik gereja hari ini justru memperlihatkan kebalikannya. Polarisasi terjadi. Kubu terbentuk. Loyalitas dibangun bukan atas dasar kebenaran, tetapi figur. Dan media sosial menjadi arena baru untuk “pertarungan” yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Padahal Alkitab sudah memberikan prinsip yang jelas:
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” (Efesus 4:3)
Kesatuan tidak berarti tanpa perbedaan. Tetapi perbedaan seharusnya dikelola dengan kasih, bukan dengan emosi.
Jika gereja terus berjalan di jalur ini, maka yang hilang bukan hanya kesatuan—tetapi kesaksian. Dunia tidak lagi melihat terang, melainkan konflik yang tidak berbeda dengan apa yang terjadi di luar gereja.
Dan di titik ini, gereja harus berani jujur pada dirinya sendiri.
Apakah kita masih memikul salib, atau hanya sedang berdiri di atas panggung?
Karena salib selalu berbicara tentang pengorbanan, ketaatan, dan kasih tanpa syarat. Sementara panggung sering kali berbicara tentang pengakuan, posisi, dan pengaruh.
Keduanya tidak bisa berjalan bersama.
Rasul Paulus memberikan standar yang sangat tegas:
“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Korintus 11:1)
Artinya, kepemimpinan Kristen bukan soal jabatan, tetapi keteladanan. Bukan soal siapa yang diikuti, tetapi siapa yang diikuti—apakah benar-benar Kristus, atau hanya kepentingan diri.
Momentum hari ini seharusnya menjadi titik balik.
Bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk kembali membangun. Bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi untuk memenangkan hati. Bukan untuk mempertahankan posisi, tetapi untuk memulihkan panggilan.
Karena pada akhirnya, gereja tidak akan diingat karena organisasinya yang besar, tetapi karena Kristus yang nyata di dalamnya.
Dan Kristus tidak pernah terlihat dalam kegaduhan—melainkan dalam kasih yang tetap tenang, bahkan di tengah badai.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI



Amin, terimakasih utk firman Tuhan yg disampaikan