TUHAN INGIN KITA TETAP BERSUKA CITA
“Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Filipi 4:4
Apa sebenarnya perbedaan antara kebahagiaan dan sukacita?
Kebahagiaan umumnya bergantung pada keadaan. Ketika usaha berjalan lancar, kita merasa bahagia. Saat tubuh sehat, keluarga hidup harmonis, pekerjaan berjalan baik, dan kebutuhan tercukupi, hati pun dipenuhi rasa senang. Namun ketika keadaan berubah, kebahagiaan itu sering kali ikut memudar.
Sukacita di dalam Tuhan berbeda.
Sukacita tidak lahir karena semua persoalan telah selesai atau karena hidup selalu berjalan sesuai harapan. Sukacita sejati lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas hidup kita, sekalipun keadaan belum berubah.
Rasul Paulus menjadi teladan yang nyata mengenai sukacita seperti ini. Ia pernah dipenjara, dipukul, difitnah, dianiaya, bahkan menghadapi berbagai penderitaan karena memberitakan Injil. Namun di tengah semua pergumulan itu, Paulus tetap dapat bersukacita dan bahkan mendorong jemaat untuk melakukan hal yang sama.
Mengapa?
Karena sumber sukacitanya bukan berasal dari situasi yang nyaman, melainkan dari hubungan yang intim dengan Tuhan.
Demikian pula kehidupan kita hari ini.
Mungkin saat ini kita sedang menghadapi berbagai pergumulan. Keadaan ekonomi belum membaik. Pekerjaan terasa berat. Usaha belum berkembang. Kesehatan sedang terganggu. Doa-doa yang kita panjatkan seolah belum juga mendapat jawaban.
Jika kita hanya memandang keadaan, hati akan mudah dipenuhi kekhawatiran, kekecewaan, bahkan keputusasaan.
Namun ketika kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan, kita akan menemukan kekuatan yang baru.
Kita diingatkan bahwa Tuhan masih memelihara hidup kita.
Dia masih memberikan napas kehidupan.
Dia masih membuka jalan, meskipun kita belum melihatnya.
Dia tetap setia, meskipun keadaan belum sesuai dengan harapan kita.
Sukacita di dalam Tuhan bukan berarti kita menolak kenyataan atau berpura-pura tidak memiliki masalah. Kita tetap bisa menangis. Kita tetap bisa merasa lelah. Kita tetap memiliki pergumulan.
Tetapi di balik semua itu, kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Sukacita seperti inilah yang memberi kita kekuatan untuk tetap tersenyum ketika hidup terasa berat, tetap mengucap syukur di tengah kekurangan, dan tetap melangkah dengan iman ketika jalan di depan belum terlihat jelas.
Karena sukacita yang berasal dari Tuhan tidak dapat dirampas oleh keadaan.
Hari ini marilah kita merenungkan:
Apakah sukacita kita bergantung pada keadaan yang baik? Ataukah sukacita kita berakar pada hubungan kita dengan Tuhan?
Jika sukacita hanya bergantung pada keadaan, maka hidup kita akan mudah diombang-ambingkan oleh setiap masalah yang datang.
Tetapi jika sukacita kita berakar di dalam Kristus, maka damai sejahtera Tuhan akan tetap memenuhi hati kita, sekalipun badai kehidupan sedang menerpa.
Mungkin hari ini keadaan kita belum berubah.
Mungkin jawaban doa belum kita terima.
Namun kita tetap dapat memilih untuk memuji Tuhan.
Tetap dapat mengucap syukur.
Tetap dapat percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik setiap proses kehidupan.
Sebab sukacita yang sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari Siapa yang kita miliki.
Dan ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki alasan yang tidak pernah habis untuk tetap berharap.
“Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Filipi 4:4
Kiranya apa pun keadaan yang sedang kita hadapi hari ini, hati kita tetap dipenuhi sukacita yang berasal dari Tuhan. Sebab sukacita di dalam Kristus bukan menghilangkan badai kehidupan, melainkan memberikan kekuatan untuk tetap berdiri teguh, percaya, dan menang di tengah badai itu.
Selamat menikmati ibadah dalam perkenan-Nya. STAY IN GOD. Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias. Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya sehingga terobosan ilahi, jalan keluar ilahi, penyelesaian ilahi, dan pelipatgandaan ilahi di seluruh area kehidupan kita dinyatakan.
Abah Daniel


