Kota Bekasi — Menjelang malam takbiran, Kota Bekasi tak ingin ambil risiko. Situasi diperketat. Pengawasan diperluas. Dan satu pesan ditegaskan: tidak ada ruang bagi gangguan keamanan saat Lebaran.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, langsung mengambil kendali dengan mengikuti pemantauan nasional bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Jumat (20/3/2026), dari Pos Lalu Lintas Bulan-Bulan—titik krusial yang menjadi barometer pergerakan warga.
Di saat kota-kota lain mulai padat oleh arus mudik, Bekasi memilih bergerak lebih cepat. Bukan reaktif, tapi antisipatif.
Pemerintah Kota bersama Forkopimda memperketat pengamanan di sejumlah titik rawan—mulai dari jalur utama, pusat keramaian, hingga kawasan pemukiman. Pos pelayanan disiagakan, personel ditambah, dan patroli diperkuat.
“Kami tidak menunggu masalah datang. Kami bergerak sebelum itu terjadi,” tegas Tri dengan nada serius.
Lonjakan mobilitas warga menjelang Idul Fitri memang tak terhindarkan. Namun bagi Pemkot Bekasi, itu bukan alasan untuk lengah. Justru menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan secara total.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam arahannya juga menekankan hal yang sama: pengamanan tidak boleh hanya terlihat—tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pastikan setiap titik terjaga. Dari mudik sampai takbiran, semua harus dalam kendali,” ujarnya.
Situasi Bekasi saat ini disebut terkendali, namun tetap dalam pengawasan ketat. Aparat gabungan terus bergerak di lapangan, memastikan malam takbiran berjalan tanpa gangguan.
Di balik gegap gempita Lebaran, ada kerja senyap yang tak boleh gagal.
Karena bagi Bekasi, ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah ujian kesiapan kota dalam menjaga rasa aman warganya.
Dan tahun ini, pesannya jelas:
Bekasi tidak lengah. Bekasi bersiaga penuh.
Jurnalis: Kefas Hervin Devananda


