Ketika Langit Terdiam: Mungkin Tuhan Sedang Menunggu Hati Kita Pulang
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
Ada sebuah ironi yang sering terjadi dalam kehidupan orang percaya. Kita begitu sibuk berbicara tentang Tuhan, tetapi lupa berbicara dengan Tuhan. Kita pandai mengutip firman-Nya, tetapi jarang membiarkan firman itu mengoreksi hidup kita. Kita ingin dikenal sebagai orang yang takut akan Allah, tetapi diam-diam lebih takut kehilangan pujian manusia daripada kehilangan hadirat-Nya.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, apakah Tuhan sedang menikmati semua aktivitas rohani kita, atau justru sedang berduka melihat hati kita yang semakin jauh dari-Nya?
Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dapat dipoles. Foto bisa diedit, berita bisa direkayasa, pencitraan bisa dibangun, bahkan karakter pun dapat dipentaskan. Dunia mengajarkan bahwa yang penting adalah bagaimana orang lain melihat kita.
Namun Kerajaan Allah bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda.
Allah tidak pernah memulai pekerjaan-Nya dari panggung. Ia selalu memulai dari hati.
Bayangkan seorang seniman yang diminta melukis sebuah pohon. Dari kejauhan lukisan itu tampak luar biasa indah. Daunnya hijau, buahnya lebat, batangnya kokoh. Tetapi ketika didekati, ternyata semua itu hanyalah gambar di atas kanvas. Pohon itu tidak pernah memberi keteduhan, tidak pernah menghasilkan oksigen, dan tidak akan pernah berbuah sungguhan.
Begitulah kehidupan yang hanya mengandalkan penampilan rohani. Indah dipandang, tetapi tidak memberi kehidupan.
Yesus tidak pernah datang untuk menciptakan orang-orang yang pandai memainkan peran religius. Ia datang untuk membangkitkan manusia yang mati karena dosa agar hidup kembali di dalam-Nya.
Inilah sebabnya Injil bukan sekadar ajakan menjadi orang baik. Injil adalah kabar tentang Allah yang turun mencari manusia yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Salib bukan panggung moralitas, melainkan tempat di mana kasih dan keadilan Allah bertemu. Melalui pengorbanan Kristus, manusia dibenarkan oleh iman dan kemudian dipanggil untuk mengalami pembaruan hidup setiap hari oleh pekerjaan Roh Kudus.
Karena itu, kekristenan bukanlah proyek memperbaiki topeng, melainkan mukjizat mengganti hati yang keras dengan hati yang baru.
Namun mengapa kita masih sering terjebak dalam kehidupan yang dangkal?
Mungkin karena lebih mudah mengganti pakaian daripada mengganti karakter.
Lebih mudah membeli Alkitab baru daripada membiarkan firman mengubah kebiasaan lama.
Lebih mudah mengangkat tangan saat menyembah daripada mengulurkan tangan untuk mengampuni.
Lebih mudah mengucapkan “Tuhan memberkati” daripada benar-benar menjadi berkat.
Saya teringat sebuah kisah tentang mercusuar di tepi pantai. Dari kejauhan, bangunannya berdiri megah dan dicat putih bersih. Namun suatu malam kapal-kapal yang melintas justru menabrak karang. Setelah diperiksa, ternyata lampu di puncak mercusuar telah lama padam. Yang tersisa hanyalah bangunan indah tanpa fungsi.
Bukankah itu gambaran yang mengerikan bagi kehidupan rohani?
Gereja bisa megah, pelayanan bisa ramai, musik bisa luar biasa, media sosial penuh ayat-ayat Alkitab, tetapi jika terang Kristus tidak lagi menyala di hati umat-Nya, dunia tetap berjalan dalam kegelapan.
Tuhan tidak membutuhkan dekorasi rohani. Dunia membutuhkan terang yang nyata.
Begitu pula hidup kita.
Ada orang yang setiap hari memoles sepatu hingga berkilau, tetapi lupa bahwa kakinya sedang berjalan ke arah yang salah. Penampilan yang baik tidak pernah dapat membenarkan arah yang keliru.
Demikian juga seseorang dapat memiliki reputasi yang baik di gereja, tetapi menyimpan kesombongan yang tidak pernah disalibkan, kepahitan yang tidak pernah diserahkan kepada Tuhan, atau ambisi yang dibungkus dengan pelayanan.
Masalah terbesar manusia bukan kurangnya aktivitas rohani, melainkan hati yang belum sepenuhnya menyerah kepada Kristus.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui usaha mempercantik diri di hadapan Allah. Sebaliknya, keselamatan adalah anugerah yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. Dari anugerah itu lahirlah kehidupan baru yang menghasilkan buah-buah pertobatan.
Dengan kata lain, kita tidak berbuat baik supaya diselamatkan. Kita berbuat baik karena telah diselamatkan.
Buah tidak pernah menjadi akar.
Akarlah yang menentukan buah.
Jika akar kita tertanam dalam kasih Kristus, maka kesabaran akan tumbuh tanpa dipaksa, pengampunan akan mengalir tanpa dibuat-buat, kerendahan hati tidak menjadi sandiwara, dan pelayanan tidak lagi menjadi alat mencari pengakuan.
Tetapi jika akar kita tertanam pada ego, maka bahkan pelayanan pun bisa berubah menjadi panggung kesombongan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai merasa dirinya sudah cukup rohani sehingga tidak lagi merasa perlu bertobat. Pada saat itulah ia sebenarnya sedang berada paling jauh dari Tuhan.
Pertobatan bukanlah pintu masuk kehidupan Kristen yang kemudian ditinggalkan. Pertobatan adalah jalan yang terus dilalui setiap hari. Martin Luther pernah menegaskan bahwa seluruh hidup orang percaya seharusnya merupakan kehidupan yang terus-menerus bertobat. Sebab semakin dekat kita kepada terang Kristus, semakin jelas kita melihat noda dalam diri sendiri.
Maka jangan takut ketika Tuhan membongkar bagian hidup yang selama ini kita sembunyikan. Seorang dokter harus membuka luka sebelum mengobatinya. Seorang tukang harus menghancurkan fondasi yang rapuh sebelum membangun rumah yang kokoh. Demikian pula Tuhan kadang mengizinkan proses yang menyakitkan agar kita tidak hidup dalam kepalsuan.
Pada akhirnya, surga tidak akan bertanya berapa banyak orang yang bertepuk tangan untuk kita.
Surga tidak akan mengukur berapa banyak pengikut di media sosial, berapa tinggi jabatan pelayanan, atau berapa banyak mimbar yang pernah kita injak.
Yang akan diperhadapkan kepada kita adalah satu pertanyaan yang sederhana namun menggetarkan:
“Apakah engkau sungguh mengenal Aku, dan apakah hidupmu mencerminkan kasih-Ku?”
Karena Tuhan tidak sedang mencari aktor yang pandai memainkan peran orang kudus.
Ia sedang membentuk anak-anak yang rela mati terhadap ego, hidup oleh kasih karunia, dipimpin oleh Roh Kudus, dan memancarkan Kristus dalam setiap aspek kehidupannya.
Maka sebelum kita sibuk mempercantik citra di hadapan dunia, marilah kita duduk sejenak di hadapan salib. Biarkan darah Kristus membersihkan hati kita, biarkan firman-Nya menyingkapkan motivasi kita, dan biarkan Roh Kudus melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh pencitraan mana pun.
Sebab pada akhirnya, iman yang sejati bukanlah tentang seberapa religius kita terlihat, melainkan seberapa dalam Kristus hidup di dalam kita. Dan ketika Kristus benar-benar berdiam di hati kita, dunia tidak hanya melihat orang yang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi melihat Tuhan yang nyata melalui hidup orang itu.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)
Soli Deo Gloria.


