SAAT HAMBA TUHAN MENUNTUT HORMAT, TAPI HIDUP DALAM STANDAR GANDA
Di zaman ini, banyak orang ingin dihormati sebagai pemimpin rohani… tetapi tidak semua mau hidup sebagai teladan rohani.
Mimbar dipenuhi kata-kata tegas, namun kehidupan di belakangnya sering berjalan berbeda.
Ada yang berbicara keras tentang kekudusan, tetapi lunak terhadap dosa yang dekat dengan kepentingannya sendiri.
Berani menegur jemaat biasa. Namun memilih diam ketika yang salah adalah orang berpengaruh, donatur besar, sahabat dekat, atau orang yang bisa menjaga posisinya.
Ironisnya, mereka tetap ingin dihormati. Tetap ingin dianggap “hamba Tuhan”. Tetap ingin diperlakukan istimewa. Tetapi lupa bahwa wibawa rohani tidak lahir dari jabatan pelayanan.
Wibawa rohani lahir dari kehidupan yang benar di hadapan Tuhan.
Karena hormat sejati tidak bisa dipaksa. Semakin seseorang menuntut penghormatan, semakin terlihat bahwa ada sesuatu yang sedang hilang dalam dirinya.
Jabatan mungkin bisa membuat orang memberi salam. Posisi mungkin membuat orang tetap menghargai secara formal. Tetapi hanya karakter yang membuat seseorang dihormati dengan tulus.
Masalah terbesar bukan ketika seorang pelayan Tuhan jatuh dalam kelemahan, melainkan ketika ia mulai hidup dalam standar ganda.
Keras kepada orang lain. Namun lembut kepada dirinya sendiri.
Tegas terhadap dosa tertentu. Namun kompromi terhadap dosa yang menguntungkan pelayanan, relasi, atau popularitasnya.
Dan semua itu sering dibungkus dengan kata: “hikmat”, “menjaga hubungan”, “demi pelayanan”, atau “supaya gereja tetap damai.”
Padahal tidak sedikit kompromi lahir karena takut kehilangan dukungan manusia.
Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan donatur. Takut kehilangan pengaruh. Takut tidak lagi dihormati.
Akhirnya kebenaran mulai dipilih-pilih. Teguran tergantung siapa orangnya. Standar rohani berubah sesuai situasi.
Inilah yang membuat banyak mimbar kehilangan kuasa.
Karena mimbar tanpa integritas hanya menghasilkan suara keras tanpa otoritas rohani.
Yesus tidak pernah memimpin dengan pencitraan. Ia tidak membangun pelayanan dengan kompromi. Dan Ia tidak mencari penghormatan manusia.
Sebaliknya, Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah pribadi yang mau melayani, rela berkorban, hidup dalam kebenaran, dan tetap rendah hati meski memiliki kuasa.
Tegas bukan berarti kasar. Mengasihi bukan berarti membiarkan dosa. Dan menjaga hubungan bukan berarti harus mengorbankan integritas.
Pelayan Tuhan sejati bukanlah mereka yang hanya berani di depan mimbar, tetapi mereka yang tetap setia kepada kebenaran bahkan ketika itu tidak populer.
Sebab pada akhirnya, seorang hamba Tuhan tidak akan mempertanggungjawabkan pelayanannya di hadapan manusia— melainkan di hadapan Tuhan.
Dan di hadapan Tuhan nanti, bukan seberapa besar nama pelayanannya yang diperhitungkan, tetapi seberapa setia ia hidup dalam kebenaran tanpa kompromi dan tanpa pilih kasih.
Karena pemimpin rohani yang kehilangan keteladanan, perlahan juga akan kehilangan wibawa dan pengaruhnya.
Orang mungkin masih datang mendengar khotbahnya. Masih memanggilnya “gembala”, “pendeta”, atau “pemimpin”. Tetapi bila integritas hilang, maka kehormatan itu perlahan menjadi kosong.
Sebab Tuhan tidak mencari hamba yang pandai menjaga citra. Tuhan mencari hamba yang setia menjaga hati dan hidupnya.
“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” — 1 Timotius 4:12
“Sebab Allah tidak memandang muka.” — Roma 2:11
“Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” — Galatia 1:10


