Belajar Bersyukur dengan Cara Pandang yang Benar
Pusakailahi.com Di zaman sekarang, manusia sangat mudah menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu.
Media sosial mengajarkan orang untuk mencari perhatian. Dunia mengajarkan manusia mengejar pengakuan. Keberhasilan sering diukur dari seberapa besar pencapaian pribadi.
Akibatnya, tanpa disadari banyak orang mulai menjalani hidup yang berpusat pada diri sendiri.
Bahkan dalam kehidupan rohani pun hal itu bisa terjadi.
Orang bersyukur ketika hidup lancar. Orang memuji Tuhan ketika doa dijawab. Orang merasa Tuhan baik ketika keadaan menyenangkan.
Namun saat hidup sulit, hati mulai kecewa. Mulai bertanya: “Kenapa Tuhan izinkan ini terjadi?”
Padahal Alkitab mengajarkan bahwa pusat iman Kristen bukan manusia, melainkan Allah sendiri.
Inilah yang disebut hidup teosentris — hidup yang berpusat kepada Tuhan.
Paulus Mengajarkan Dasar Syukur yang Benar
Dalam 1:4-9, Rasul Paulus menunjukkan bentuk ucapan syukur yang sangat dalam secara rohani.
Menariknya, Paulus menulis kepada jemaat Korintus yang sebenarnya memiliki banyak masalah:
- perpecahan,
- kesombongan rohani,
- perselisihan,
- bahkan penyimpangan moral.
Tetapi Paulus tetap memulai suratnya dengan ucapan syukur kepada Allah.
Mengapa?
Karena fokus Paulus bukan pada keadaan manusia, tetapi pada kesetiaan Tuhan.
Ia bersyukur karena:
- Allah telah memberi anugerah keselamatan,
- Allah memperkaya jemaat dengan karunia,
- dan Allah tetap setia memelihara umat-Nya sampai akhir.
Ini menunjukkan bahwa dasar syukur orang percaya bukan situasi hidup, melainkan pribadi Allah sendiri.
Semua yang Kita Miliki Adalah Anugerah
Salah satu dosa manusia yang paling halus adalah merasa dirinya sumber dari keberhasilannya sendiri.
Ketika berhasil, manusia mudah berkata: “Ini hasil usahaku.” “Ini karena kemampuanku.” “Ini karena kepintaranku.”
Padahal Alkitab mengajarkan bahwa semua berasal dari Tuhan.
- Nafas berasal dari Tuhan.
- Hikmat berasal dari Tuhan.
- Kesempatan berasal dari Tuhan.
- Talenta berasal dari Tuhan.
- Bahkan keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia.
Karena itu tidak ada alasan untuk sombong.
Jika hari ini seseorang masih bisa hidup, bekerja, melayani, dan bertahan melewati berbagai musim kehidupan, semuanya karena kasih karunia Allah.
Bahaya Hidup yang Berpusat pada Diri Sendiri
Hidup yang terlalu berpusat pada diri sendiri akan mudah goyah.
Mengapa?
Karena manusia terbatas. Keadaan bisa berubah. Kesehatan bisa menurun. Harta bisa hilang. Pengakuan manusia bisa lenyap kapan saja.
Jika hidup dibangun hanya di atas keberhasilan pribadi, maka saat semuanya runtuh, hati pun ikut hancur.
Tetapi ketika hidup berpusat kepada Tuhan, manusia memiliki dasar yang tidak berubah.
Sebab Tuhan tetap sama:
- kemarin,
- hari ini,
- dan sampai selama-lamanya.
Tuhan Bekerja Bahkan Melalui Hal yang Sulit
Banyak orang hanya bisa bersyukur saat menerima hal baik.
Padahal Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan juga bekerja melalui proses yang menyakitkan.
Kadang Tuhan memakai:
- kegagalan,
- penantian,
- penderitaan,
- air mata,
- bahkan kehilangan,
untuk membentuk karakter dan iman manusia.
Ini bukan berarti penderitaan itu menyenangkan. Tetapi Tuhan sanggup memakai semuanya untuk mendatangkan kebaikan rohani bagi umat-Nya.
Orang percaya mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan. Tetapi orang percaya belajar mempercayai hati Tuhan.
Karunia Bukan untuk Kesombongan
Jemaat Korintus memiliki banyak karunia rohani.
Namun Paulus mengingatkan bahwa semua itu berasal dari Allah.
Artinya: karunia bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuliakan Tuhan.
Di zaman sekarang, banyak orang mengejar pelayanan, jabatan, dan popularitas rohani.
Padahal inti kehidupan Kristen bukan mencari kemuliaan diri sendiri.
Pusat kehidupan orang percaya tetap .
Ketika Kristus menjadi pusat:
- pelayanan dilakukan dengan rendah hati,
- keberhasilan tidak membuat sombong,
- dan kegagalan tidak menghancurkan iman.
Syukur yang Dewasa Secara Rohani
Iman yang dewasa tidak berkata: “Aku bersyukur karena hidupku sempurna.”
Tetapi berkata: “Aku tetap bersyukur karena Tuhan tetap setia.”
Inilah syukur yang teosentris.
Syukur yang tidak bergantung pada keadaan. Syukur yang lahir dari pengenalan akan Tuhan.
Orang percaya belajar melihat bahwa:
- Tuhan tetap baik saat hidup mudah,
- Tuhan tetap baik saat hidup sulit,
- dan kasih-Nya tidak berubah dalam segala musim kehidupan.
Hidup yang teosentris berarti menjadikan Tuhan sebagai pusat segala sesuatu.
Bukan diri sendiri. Bukan keberhasilan. Bukan keadaan hidup.
Ketika manusia menempatkan sebagai pusat hidupnya, maka ia belajar:
- bersyukur dalam segala keadaan,
- hidup dalam kerendahan hati,
- dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan melalui proses hidup yang tidak mudah.
Karena pada akhirnya, hidup orang percaya bukan tentang memuliakan diri sendiri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan manusia melalui kasih karunia-Nya.
Ev Kefas Hervin Devananda SH STh MPdK alias Romo Kefas


