Pusakailahi.com – Bacaan: Kisah Para Rasul 7:54–60
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
Tidak semua luka itu buruk. Ada luka yang menghancurkan, tetapi ada juga luka yang menyelamatkan. Firman Tuhan sering kali terasa seperti itu—menembus, mengusik, bahkan “menusuk.” Namun persoalannya bukan pada tajamnya firman, melainkan pada bagaimana hati kita meresponsnya.
Ketika Stefanus menyampaikan kebenaran dengan penuh kuasa, Alkitab mencatat bahwa hati para pendengarnya “sangat tertusuk” (Kisah Para Rasul 7:54). Tetapi bukannya bertobat, mereka justru marah, menolak, bahkan membunuh dia. Mereka tidak salah mendengar—mereka salah merespons.
Di sisi lain, saat Petrus berkhotbah, firman yang sama juga menusuk hati banyak orang. Namun responsnya berbeda. Mereka berkata, “Apakah yang harus kami perbuat?” (Kisah Para Rasul 2:37). Dari tusukan yang sama, lahir pertobatan yang membawa keselamatan.
Di sinilah letak perbedaannya: hati yang keras menjadikan firman sebagai ancaman, tetapi hati yang lembut menjadikan firman sebagai undangan.
Bayangkan seorang dokter yang harus membersihkan luka yang terinfeksi. Saat luka itu disentuh, pasti terasa sakit. Namun rasa sakit itu bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyembuhkan. Jika pasien menolak karena sakit, infeksi akan semakin parah. Tetapi jika ia bertahan, pemulihan akan terjadi.
Demikian pula firman Tuhan. Ketika Ia menyingkapkan kesalahan, dosa, atau motivasi yang keliru, itu bukan untuk mempermalukan kita, melainkan untuk memulihkan kita.
Firman Tuhan berkata, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua” (Ibrani 4:12). Ketajamannya bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menembus sampai ke bagian terdalam—tempat di mana perubahan sejati dimulai.
Masalahnya, banyak orang lebih suka nyaman daripada benar. Lebih suka dibenarkan daripada dibentuk. Akibatnya, setiap teguran dianggap serangan, setiap kebenaran dianggap ancaman.
Padahal Tuhan tidak pernah bermaksud melukai tanpa tujuan. Setiap firman yang “menusuk” sesungguhnya adalah undangan untuk bertobat dan bertumbuh.
Yesus sendiri mengajarkan tentang tanah hati manusia. “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah” (Matius 13:23). Artinya, kualitas hidup rohani kita tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mendengar firman, tetapi oleh kondisi hati kita saat menerimanya.
Hari ini, mungkin ada firman yang menegur, mengingatkan, atau bahkan membuat kita tidak nyaman. Jangan buru-buru menolaknya. Jangan langsung menghindar.
Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ini suara Tuhan yang sedang membentukku?
Karena pada akhirnya, firman tidak pernah gagal. Ia selalu bekerja. Entah untuk melembutkan, atau justru mengeraskan—semuanya tergantung pada hati yang menerimanya.
Pilihlah untuk tetap terbuka. Pilihlah untuk tetap rendah hati. Pilihlah untuk bertobat.
Sebab lebih baik hati tersentuh dan diubahkan, daripada tertusuk tetapi tetap keras.
Firman yang sama bisa menyelamatkan atau mengeraskan—semuanya ditentukan oleh respons hati kita.


