PusakaIlahi.com – Hakim-hakim 11:1-11
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K. (Romo Kefas)
Ada kalanya manusia menilai seseorang dari asal-usulnya, masa lalunya, atau kegagalannya. Dunia sering memberi label, lalu memenjarakan seseorang di balik label itu. Namun Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak terikat pada penilaian manusia. Ia melihat lebih dalam—ke hati, ke potensi, dan kepada rancangan yang telah Ia tetapkan sejak semula.
Yefta adalah contoh nyata. Ia lahir dari seorang perempuan sundal, sebuah latar belakang yang membuatnya ditolak oleh keluarganya sendiri. Bahkan saudara-saudaranya mengusir dia agar tidak mendapat bagian warisan (Hakim-hakim 11:2). Seolah itu belum cukup, Yefta kemudian hidup di tanah Tob dan dikelilingi oleh orang-orang petualang. Masa lalunya jauh dari kata ideal.
Namun anugerah Allah tidak pernah dibatasi oleh sejarah manusia. Ketika bangsa Israel berada dalam ancaman, mereka justru datang kepada Yefta—orang yang pernah mereka tolak—untuk memimpin mereka. Di sinilah kita melihat prinsip rohani yang agung: Tuhan kerap memakai orang yang diremehkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Seperti seorang pengrajin yang mengambil kayu yang dibuang orang, lalu mengukirnya menjadi karya yang indah, demikian pula Tuhan. Apa yang dianggap tak bernilai oleh dunia dapat diubah-Nya menjadi alat kemuliaan. Sebab “manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7).
Pemilihan Tuhan tidak didasarkan pada kesempurnaan manusia, melainkan pada kasih karunia-Nya. Rasul Paulus menegaskan, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat” (1 Korintus 1:27). Musa memiliki kelemahan dalam berbicara, Daud hanyalah gembala muda, para murid berasal dari kalangan sederhana, namun semuanya dipakai secara luar biasa di tangan Tuhan.
Yefta juga menunjukkan bahwa anugerah bukan hanya memilih, tetapi juga mengubahkan. Ia bukan sekadar seorang pejuang yang gagah perkasa, melainkan pribadi yang memiliki kebesaran hati. Ia bersedia kembali untuk memimpin orang-orang yang pernah menolaknya. Hati yang dipulihkan oleh Tuhan mampu melepaskan pengampunan.
Karena itu, jangan pernah merasa terlalu hina untuk dipakai Tuhan. Masa lalu mungkin membentuk cerita hidupmu, tetapi tidak menentukan akhir kisahmu. Di tangan Tuhan, luka dapat menjadi kesaksian, penolakan dapat menjadi panggilan, dan kelemahan dapat menjadi jalan bagi kuasa-Nya.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).
Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Ia mencari hati yang bersedia. Ketika hati itu diserahkan kepada-Nya, Ia sanggup membentuk, memperlengkapi, dan memakai siapa saja untuk menggenapi rencana-Nya yang mulia.


