PusakaIlahi.com Belajar dari Rafidim – Keluaran 17:1–7
“Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”
Pertanyaan itu lahir bukan di tempat tanpa mukjizat,
melainkan di tengah bangsa yang baru saja diselamatkan.
Laut sudah terbelah.
Manna sudah turun.
Penyertaan Tuhan sudah nyata.
Namun ketika air tidak ada,
iman mereka ikut mengering.
Iman yang Cepat Lupa
Masalah Israel bukan kurang pengalaman rohani.
Masalah mereka adalah tidak mengolah pengalaman itu menjadi pengenalan.
Mereka melihat karya Tuhan,
tetapi tidak mengenal hati Tuhan.
Akibatnya, setiap krisis baru terasa seperti pertama kali.
Teologi yang Sering Disalahpahami
Banyak orang mengira iman adalah:
- perasaan yakin
- suasana hati yang tenang
- atau pengalaman spektakuler
Padahal Alkitab mengajarkan:
iman adalah respons sadar terhadap penyataan Allah.
Kita percaya bukan karena hidup mudah,
tetapi karena Tuhan telah menyatakan diri-Nya—
melalui firman, melalui sejarah keselamatan, dan puncaknya di dalam Kristus.
Air di Rafidim: Tuhan Menyediakan, Tapi Juga Menyingkapkan
Di Rafidim, Tuhan memberi air dari batu.
Itu anugerah.
Namun peristiwa itu juga membuka sesuatu:
hati yang masih mudah meragukan.
Tuhan tidak hanya memenuhi kebutuhan mereka,
Ia juga memperlihatkan kondisi iman mereka yang sebenarnya.
Iman Sejati: Bukan Warisan, Tapi Kesadaran Pribadi
Kita bisa lahir dalam keluarga percaya,
aktif dalam ibadah,
terbiasa dengan bahasa rohani—
namun tetap belum memiliki iman yang sadar.
Iman sejati lahir ketika:
- firman Tuhan membuka pikiran
- Roh Kudus menyadarkan hati
- kita melihat dosa kita
- dan memilih percaya kepada Kristus secara pribadi
Ini bukan kebiasaan.
Ini pertobatan dan penyerahan diri.
Ketika Hidup Kering, Apa yang Kita Lakukan?
Kekeringan hidup bukan hal baru.
Yang membedakan adalah respons kita:
Israel bersungut-sungut.
Iman yang dewasa belajar berseru dengan percaya.
Bukan meniadakan pergumulan,
tetapi tidak menjadikannya alasan untuk meragukan Tuhan.
Tuhan tetap setia,
bahkan ketika umat-Nya tidak setia.
Namun anugerah itu tidak boleh membuat kita tetap dangkal.
Iman sejati bukan sekadar tahu bahwa Tuhan pernah bekerja,
tetapi sadar bahwa Ia tetap hadir dan layak dipercaya—
bahkan ketika kita tidak melihat jalan keluar.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)


