PusakaIlahi.com Bukan Sekadar Kebiasaan, tetapi Perjumpaan yang Mengubah
Lukas 4:14–21
“Ia datang ke Nazaret… menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat…” (Luk. 4:16)
Bayangkan sebuah ibadah yang berjalan seperti biasa.
Orang-orang datang, duduk di tempatnya masing-masing,
mendengar Kitab Suci dibacakan,
mengikuti alur yang sudah mereka kenal sejak lama.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang baru.
Semua berjalan seperti biasanya.
Sampai Yesus berdiri.
Ia membaca Kitab Suci—seperti yang sering mereka dengar.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Bukan karena teksnya berubah,
tetapi karena Sang Penggenap itu sedang berdiri di depan mereka.
“Pada hari ini genaplah nas ini…”
Kalimat itu seharusnya mengguncang seluruh ruangan.
Rutinitas yang biasa
tiba-tiba berhadapan dengan realitas Allah.
Namun tidak semua orang siap.
Mereka terbiasa dengan firman sebagai bacaan,
tetapi tidak siap ketika firman itu menjadi kenyataan.
Mereka nyaman dengan rutinitas,
tetapi terganggu oleh kebenaran.
Dan di sinilah tragedi itu terjadi.
Yesus hadir—
tetapi tidak semua mengenal-Nya.
Firman dinyatakan—
tetapi tidak semua menerimanya.
Rutinitas ternyata bisa membuat seseorang merasa dekat dengan Tuhan,
padahal ia justru kebal terhadap Tuhan.
Kita sering berpikir bahwa masalah utama adalah tidak beribadah.
Padahal, masalah yang lebih dalam adalah:
beribadah tanpa kesiapan untuk berubah.
Kebiasaan bisa menjadi berkat—
tetapi juga bisa menjadi selimut.
Ia menenangkan hati,
memberi rasa “aman secara rohani”,
tanpa pernah benar-benar menggugah hidup.
Kita datang, mendengar, pulang—
dan tidak ada yang berubah.
Bukan karena Tuhan tidak berbicara,
tetapi karena kita sudah terlalu terbiasa untuk mendengar.
Yesus tidak datang ke rumah ibadat untuk mempertahankan sistem.
Ia datang untuk menggenapi.
Ia tidak sekadar membaca firman,
Ia menghadirkan firman itu.
Artinya, setiap perjumpaan dengan Kristus
selalu menuntut respons.
Tidak ada posisi netral.
Entah kita dibaharui,
atau kita mengeraskan hati.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari
Hari ini, kita juga hidup dalam banyak kebiasaan rohani.
Ibadah, pelayanan, firman—
semuanya ada.
Namun pertanyaannya sederhana, tetapi tajam:
Apakah kita benar-benar bertemu dengan Tuhan,
atau hanya menjalani rutinitas tentang Tuhan?
Karena dua hal itu sangat berbeda.
Yang paling berbahaya bukanlah meninggalkan kebiasaan rohani,
melainkan tetap melakukannya—
tanpa pernah mengalami Allah di dalamnya.
Jangan biarkan kebiasaan membuat kita merasa dekat dengan Tuhan,
jika sebenarnya kita tidak pernah sungguh-sungguh bertemu dengan-Nya.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


