Bicara Surga, Namun Lupa Cara Hidup di Bumi
PusakaIlahi.com Nama Jusuf Kalla kembali ramai.
Bukan karena prestasi. Bukan karena solusi.
Tapi karena satu hal yang di negeri ini selalu laris: agama + kontroversi = viral.
Ada kalimat yang beredar.
Kalimat yang, kalau benar, cukup membuat banyak orang mengernyit.
Kalimat yang, kalau salah, cukup menunjukkan betapa kita ini gampang sekali digiring.
Namun, jujur saja—yang paling menarik bukan kalimatnya.
Yang paling menarik adalah cara kita bereaksi.
Kita ini bangsa yang religius.
Tapi entah kenapa, setiap kali isu iman muncul, kita berubah menjadi hakim tanpa ruang sidang.
Timeline menjadi mimbar.
Komentar berubah menjadi vonis.
Dan emosi—entah sejak kapan—dianggap sebagai kebenaran.
Ironisnya?
Kita lebih cepat marah daripada mencari fakta.
Lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Lebih cepat membela Tuhan… daripada meneladani-Nya.
Padahal, Tuhan tidak pernah membutuhkan pembelaan yang dibungkus amarah.
Mari kita luruskan sesuatu yang sering dibengkokkan secara halus:
Iman tidak pernah mengajarkan kekerasan sebagai jalan menuju kemuliaan.
Ketika kematian akibat konflik manusia diberi label “suci”, di situlah iman mulai kehilangan maknanya dan berubah menjadi alat pembenaran.
Dan di titik ini, satirnya terasa begitu nyata:
Kita sibuk menentukan siapa yang “layak masuk surga”…
sementara hidup kita sendiri sering kali menjauhkan orang lain dari rasa damai di bumi.
Sekarang mari gunakan logika yang paling sederhana:
Jika pernyataan itu tidak pernah ada,
maka kita sedang menyaksikan betapa hoaks lebih dipercaya daripada klarifikasi.
Jika pernyataan itu memang pernah ada,
maka kita diingatkan bahwa bahkan tokoh besar pun tidak kebal dari kekeliruan—
dan justru di situlah kesempatan untuk menunjukkan kebesaran:
berani mengakui dan memperbaiki.
Namun pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang siapa yang berkata.
Ini tentang bagaimana kita sebagai bangsa merespons.
Kita ingin damai, tapi cara kita bereaksi penuh api.
Kita bicara kasih, tapi respons kita dipenuhi sinisme.
Kita menyebut nama Tuhan, tapi lupa menjaga sikap sebagai manusia.
Dan mungkin, ini bagian yang paling jujur:
Agama tidak pernah menjadi masalah.
Yang sering menjadi masalah adalah cara manusia menggunakannya.
Jadi sebelum kita kembali menulis komentar panjang,
sebelum kita merasa paling benar dalam membela iman…
Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan:
Apakah cara kita hari ini mencerminkan Tuhan yang kita yakini—
atau justru memperlihatkan ego yang kita bungkus atas nama-Nya?
Karena pada akhirnya,
yang membuat dunia ini panas bukanlah perbedaan iman—
melainkan manusia yang terlalu sibuk berbicara atas nama Tuhan, tanpa pernah benar-benar hidup seperti yang Dia ajarkan.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pdk
