Pusakailahi.com
Ada satu kecenderungan menarik dalam kehidupan rohani masa kini:
kita menginginkan Tuhan bekerja secepat aplikasi di genggaman.
Berdoa hari ini,
jawaban diharapkan besok.
Menabur sedikit,
menuai segera.
Percaya sebentar,
ingin hasil permanen.
Dan ketika semua itu tidak terjadi,
kesimpulannya sering sederhana:
“Tuhan belum bekerja.”
Padahal, mungkin yang belum bekerja… adalah kesabaran kita.
Jika Alkitab dibaca dengan jujur,
tidak ada satu pun kisah besar yang lahir secara instan.
Janji selalu diiringi penantian.
Panggilan selalu melewati proses.
Iman selalu diuji oleh waktu.
Namun dalam praktiknya, kita sering menginginkan hasil tanpa perjalanan.
Seolah-olah kedewasaan rohani bisa dicapai tanpa pembentukan.
Padahal Tuhan tidak hanya ingin memberkati,
Ia juga ingin membentuk.
Ada bentuk doa yang terdengar rohani,
tetapi sebenarnya menyimpan tuntutan.
“Tuhan, aku sudah percaya…”
“Tuhan, aku sudah berdoa…”
Dan tanpa disadari, kalimat itu mengandung harapan tersembunyi:
bahwa Tuhan seharusnya segera bertindak.
Namun iman bukan alat untuk mempercepat Tuhan.
Iman adalah respons untuk tetap percaya ketika Tuhan memilih menunggu.
Ketika waktu berjalan lebih lama dari harapan,
reaksi manusia mulai terlihat.
Keluhan muncul.
Perbandingan dimulai.
Keraguan perlahan masuk.
Semua dibungkus dengan alasan yang tampak wajar.
Padahal, dalam terang firman,
sungut-sungut bukan sekadar emosi—
itu adalah sinyal bahwa hati mulai bergeser.
Dari percaya… menjadi menuntut.
Salah satu ironi terbesar dalam iman adalah ini:
Tuhan tidak pernah terlambat,
tetapi manusia terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Kita mengukur waktu dengan kalender.
Tuhan bekerja dalam kekekalan.
Kita melihat proses sebagai hambatan.
Tuhan melihatnya sebagai pembentukan.
Dan di situlah perbedaan itu sering tidak kita pahami.
Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan iman yang instan.
Sebaliknya, firman mengarahkan kita pada ketekunan, kesetiaan, dan pengharapan.
Namun firman hanya akan berdampak
jika tidak sekadar dibaca,
melainkan direnungkan dan dihidupi.
Tanpa firman, iman menjadi rapuh.
Dengan firman, iman menjadi kokoh—
meskipun keadaan belum berubah.
Barangkali kita tidak kehilangan iman.
Kita hanya ingin iman yang tidak perlu menunggu.
Barangkali kita masih percaya Tuhan.
Kita hanya ingin Tuhan bekerja sesuai jadwal kita.
Barangkali kita tidak menolak proses.
Kita hanya berharap proses itu tidak terlalu lama.
Dan di situlah masalahnya.
Tuhan tidak pernah bekerja tergesa-gesa.
Ia juga tidak pernah gagal menepati janji-Nya.
Namun Ia tidak tunduk pada waktu manusia.
Mungkin masalahnya bukan Tuhan yang terlalu lambat.
Mungkin kita yang terlalu terbiasa dengan segala sesuatu yang instan—
hingga lupa bahwa iman sejati
tidak dibentuk dalam kecepatan,
melainkan dalam kesetiaan menunggu.
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K


