PusakaIlahi.com
Ada masa di mana saya begitu yakin bahwa saya sedang melakukan hal yang benar.
Saya berbicara tanpa henti.
Menjelaskan dengan penuh semangat.
Membela apa yang saya yakini sebagai kebenaran.
Di dalam hati, saya merasa sedang melayani Tuhan.
Tetapi saya tidak sadar…
bahwa di balik semua itu, saya mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.
Awalnya saya hanya ingin orang mengerti.
Namun lama-kelamaan, saya ingin mereka setuju.
Saya tidak lagi sekadar bersaksi,
saya mulai memaksakan.
Setiap penolakan terasa menyakitkan.
Setiap perbedaan terasa seperti serangan.
Dan perlahan… saya berubah.
Nada bicara saya meninggi.
Kesabaran saya menipis.
Kasih saya… mulai hilang.
Saya masih membawa firman Tuhan,
tetapi hati saya tidak lagi lembut.
Ada satu fase di mana saya benar-benar lelah.
Bukan lelah tubuh…
tetapi lelah jiwa.
Saya bertanya dalam diam:
“Tuhan, kenapa tidak ada yang berubah?”
“Tuhan, apakah aku salah?”
Dan yang paling menyakitkan,
orang-orang mulai menjauh.
Bukan karena mereka tidak tahu kebenaran…
tetapi mungkin karena cara saya menyampaikannya.
Malam itu, saya menangis.
Dalam diam.
Tanpa kata.
Suatu hari, saya membaca satu ayat:
“Jangan kamu melemparkan mutiaramu…”
Saya terdiam lama.
Untuk pertama kalinya,
saya tidak membaca firman itu untuk orang lain.
Saya membacanya untuk diri saya sendiri.
Dan saya tersadar…
mungkin selama ini saya tidak sedang memberi—
saya sedang memaksakan.
Saya mulai mengerti sesuatu yang sebelumnya sulit saya terima:
Tidak semua orang akan langsung menerima.
Tidak semua hati siap pada waktu yang sama.
Dan itu bukan berarti firman Tuhan gagal.
Itu berarti…
Tuhan sedang bekerja dengan cara-Nya.
Yang paling sulit bukan berbicara.
Yang paling sulit adalah berhenti.
Berhenti menjelaskan.
Berhenti mengejar.
Berhenti membuktikan.
Saya merasa seperti kalah.
Tetapi dalam doa, saya mulai mengerti:
Berhenti bukan berarti menyerah…
berhenti berarti percaya bahwa Tuhan tetap bekerja.
Saat saya mulai diam,
sesuatu berubah.
Bukan di luar terlebih dahulu…
tetapi di dalam diri saya.
Hati saya dipulihkan.
Kasih saya dilembutkan kembali.
Dan damai yang hilang… perlahan kembali.
Saya belajar bahwa:
- Tidak semua harus saya jawab
- Tidak semua harus saya luruskan
- Tidak semua harus saya kejar
Karena Tuhan tidak pernah kehilangan kendali.
Saya masih ingat air mata itu.
Bukan karena saya ditolak…
tetapi karena saya sadar, saya hampir kehilangan kasih.
Dan di situlah Tuhan membentuk saya.
Bukan menjadi orang yang selalu benar,
tetapi menjadi orang yang belajar mengasihi dengan benar.
Hari Ini, Saya Masih Bersaksi… Tapi Berbeda
Saya masih berbicara tentang Tuhan.
Saya masih menyampaikan kebenaran.
Tetapi sekarang, saya belajar:
berbicara dengan hati…
bukan dengan tekanan.
Saya belajar menunggu.
Saya belajar peka.
Saya belajar diam… ketika Tuhan tidak menyuruh saya berbicara.
Saya tidak berhenti karena menyerah.
Saya berhenti…
karena saya belajar taat.
Saya pernah memaksakan kebenaran…
dan hampir kehilangan kasih.
Sekarang saya memilih berjalan dengan hikmat—
meski itu berarti harus belajar diam.
Penulis:
— Seorang Pembelajar Iman


