Bandung – Di tengah arus kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, peringatan Jumat Agung 2026 menjadi momen untuk kembali kepada esensi iman yang sejati. Dalam wawancara bersama tim media, Pdt. Ricardo RJ Palijama menegaskan pentingnya menghadirkan iman yang tidak hanya diyakini, tetapi juga mengubahkan kehidupan.
Sebagai Ketua Badan Musyawarah Gereja Misi Injili (GMI) dan Sekretaris PW PGLII Provinsi Jawa Barat, ia melihat bahwa banyak orang terjebak pada aktivitas keagamaan tanpa mengalami perubahan yang mendalam dalam hidupnya.
“Jumat Agung bukan sekadar mengenang peristiwa penyaliban, tetapi tentang bagaimana peristiwa itu mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak,” ujarnya di Bandung, Jumat (3/4/2026).
Menurut Pdt. Ricardo, pengorbanan Yesus Kristus merupakan titik awal dari transformasi hidup. Ia menilai bahwa iman yang benar selalu membawa perubahan, baik dalam karakter pribadi maupun dalam relasi dengan sesama.
Ia juga menyoroti bahwa transformasi iman tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang konsisten dan kesediaan untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
“Perubahan itu dimulai dari dalam. Ketika hati diubahkan, maka hidup pun akan mengikuti,” katanya.
Dalam wawancara tersebut, Pdt. Ricardo mengajak umat untuk menjadikan Jumat Agung sebagai momentum untuk mengevaluasi arah hidup. Ia menilai penting bagi setiap individu untuk bertanya, apakah iman yang dimiliki sudah membawa dampak nyata atau belum.
Selain itu, ia menekankan bahwa gereja harus menjadi ruang yang mendorong pertumbuhan dan perubahan, bukan hanya tempat menjalankan rutinitas ibadah.
“Gereja harus membantu umat bertumbuh, bukan hanya hadir. Karena tujuan akhirnya adalah perubahan hidup yang nyata,” tegasnya.
Pdt. Ricardo juga mengingatkan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam proses transformasi iman. Nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga akan menjadi dasar dalam membentuk kehidupan spiritual seseorang.
Peringatan Jumat Agung sendiri merupakan bagian penting dalam iman Kristiani yang mengingatkan akan pengorbanan Yesus Kristus sebagai wujud kasih dan penebusan bagi manusia.
Di akhir wawancara, Pdt. Ricardo berharap agar Jumat Agung 2026 tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi benar-benar menjadi titik awal bagi perubahan hidup yang lebih baik.
“Iman yang sejati pasti membawa perubahan. Jika tidak ada perubahan, maka kita perlu bertanya kembali tentang iman yang kita jalani,” tutupnya.


