Pusakailahi.com – Renungan Pagi – Rabu, 1 April 2026
Kidung Agung 1:2
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!”
Ayat ini bukan sekadar ungkapan puitis. Ini adalah suara jiwa yang tidak lagi puas dengan iman yang biasa-biasa saja. Sebuah seruan yang lahir dari kedalaman relasi, bukan sekadar rutinitas agama.
Namun ironisnya, justru di zaman ini banyak orang percaya merasa cukup. Cukup datang ibadah. Cukup tahu firman. Cukup terlihat rohani. Tetapi di balik semua itu, hati perlahan kehilangan rasa haus akan Tuhan.
Iman menjadi aman—terlalu aman. Tidak ada pergumulan, tidak ada kerinduan, tidak ada pencarian yang sungguh.
Kidung Agung memperlihatkan gambaran yang berbeda. Mempelai perempuan tidak menjaga jarak. Ia tidak berbicara dengan formalitas. Ia langsung menyatakan kerinduannya. Ini bukan sikap emosional tanpa dasar, melainkan respons dari kasih yang telah lebih dulu ia terima.
Dalam kerangka teologi yang benar, relasi ini menunjuk pada hubungan Kristus dengan umat-Nya. Sebuah hubungan yang dibangun bukan atas usaha manusia, tetapi atas dasar anugerah Allah.
Karena itu, keintiman dengan Tuhan bukanlah hasil dari aktivitas religius semata, melainkan buah dari karya keselamatan yang utuh: pembenaran oleh iman, pengangkatan sebagai anak Allah, dan pengudusan oleh Roh Kudus.
Masalahnya, banyak orang berhenti di tahap percaya, tetapi tidak melangkah ke tahap mengenal.
Mereka mengenal doktrin, tetapi tidak mengalami hadirat.
Mereka memahami kebenaran, tetapi tidak hidup di dalamnya.
Akibatnya, iman menjadi kering dan mudah goyah.
“Ciuman” dalam ayat ini adalah gambaran rohani tentang pengalaman kasih Allah yang nyata. Ini berbicara tentang perjumpaan pribadi dengan Kristus yang mengubahkan hati, bukan sekadar pengetahuan di pikiran.
Ini adalah saat di mana firman tidak hanya didengar, tetapi dirasakan.
Saat doa tidak hanya diucapkan, tetapi menjadi perjumpaan.
Saat Tuhan tidak hanya diyakini, tetapi dialami.
Namun perlu ditegaskan, pengalaman rohani yang sejati tidak pernah bertentangan dengan kebenaran firman. Keintiman tanpa dasar firman akan jatuh pada emosi kosong. Sebaliknya, kebenaran tanpa keintiman akan menjadi kaku dan tidak hidup.
Keduanya harus berjalan bersama.
Alkitab menunjukkan bahwa melalui karya Kristus, kita tidak lagi berada jauh dari Allah. Kita diberi akses untuk datang dengan keberanian, bukan karena kelayakan kita, tetapi karena karya penebusan-Nya yang sempurna.
Inilah yang seharusnya membangkitkan kembali rasa haus itu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita percaya, tetapi apakah kita masih rindu.
Apakah hati kita masih mencari Tuhan saat tidak ada yang melihat?
Apakah kita masih menikmati kehadiran-Nya, atau hanya menjalani rutinitas rohani?
Iman yang hidup selalu ditandai dengan kerinduan.
Dan kerinduan itu tidak bisa dipalsukan.
Di awal bulan ini, mungkin yang perlu diperbarui bukan jadwal kita, bukan aktivitas kita, tetapi hati kita.
Karena ketika hati kembali haus akan Tuhan,
iman yang tadinya dingin akan kembali menyala.
Dan di situlah hubungan dengan Kristus menjadi nyata—bukan sekadar konsep, tetapi kehidupan.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


