Yogyakarta, 26 Maret 2026 — Livingstone Community Yogyakarta mengajak umat Kristen untuk merespons konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dengan sikap yang bijak, seimbang, serta tetap berakar pada nilai-nilai iman Kristen.
Pimpinan Livingstone Community, Pdt. Soleman Samuel, menegaskan bahwa gereja tidak boleh terjebak dalam arus polarisasi maupun sikap ekstrem yang justru dapat memperkeruh suasana.
“Gereja dipanggil untuk menghadirkan keteduhan, bukan memperuncing konflik. Respons iman harus tetap berlandaskan kebenaran Firman Tuhan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (26/3).
Ia menjelaskan, terdapat beragam pandangan teologis dalam kekristenan terkait Israel. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan dipahami sebagai bagian dari dinamika iman yang perlu disikapi dengan kedewasaan rohani.
Dalam pernyataannya, Livingstone Community merumuskan sejumlah sikap yang perlu dipegang umat Kristen dalam menghadapi situasi global saat ini:
Pertama, umat diingatkan untuk tetap menempatkan Tuhan sebagai pusat penyembahan, bukan menjadikan isu geopolitik sebagai fokus utama iman.
Kedua, umat diminta menolak segala bentuk kebencian, ujaran provokatif, maupun sikap ekstrem terhadap bangsa atau kelompok tertentu.
Ketiga, gereja diajak untuk tetap menghormati posisi Israel dalam sejarah keselamatan tanpa harus terjebak dalam keberpihakan politik.
Keempat, umat ditegaskan untuk tetap berpegang pada Yesus Kristus sebagai pusat iman dan dasar kehidupan rohani.
Kelima, gereja didorong untuk terus mendoakan perdamaian bagi semua pihak yang terlibat konflik.
Keenam, umat diimbau untuk lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama di tengah derasnya arus berita yang belum tentu terverifikasi.
Soleman menambahkan, iman Kristen tidak diukur dari sikap terhadap suatu negara, melainkan dari hubungan pribadi dengan Kristus serta penerapan nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.
“Keselamatan di dalam Kristus terbuka bagi semua manusia tanpa membedakan latar belakang bangsa. Karena itu, gereja harus tetap menjadi pembawa damai,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa gereja tidak boleh menjadi alat kepentingan politik, melainkan harus tetap berdiri sebagai representasi kasih, kebenaran, dan pengharapan di tengah dunia.
Di tengah situasi global yang tidak menentu, Livingstone Community berharap umat Kristen tetap konsisten menjadi terang dan garam dengan menghadirkan pesan damai serta kesejukan bagi masyarakat luas.
Jurnalis Romo Kefas
