Pusakailahi.com Ketika Kebaikan Jadi Alat Tukar, Bukan Buah Iman
Hakim-hakim 8:4–21
Mari jujur.
Banyak dari kita bukan orang jahat.
Kita rajin berbuat baik.
Suka menolong.
Terlihat peduli.
Tapi ada satu masalah kecil—yang sebenarnya besar:
kita tidak benar-benar mengasihi.
Kita sedang bertransaksi.
“Aku Sudah Baik, Sekarang Giliranmu”
Kita memberi…
tapi sambil menghitung.
Kita menolong…
tapi sambil mencatat.
Kita berkorban…
tapi diam-diam menagih.
Dan ketika orang tidak membalas?
Langsung berubah:
- kecewa
- menjauh
- bahkan pahit
Lalu kita bilang:
“Manusia memang tidak tahu diri.”
Padahal masalahnya bukan mereka.
Masalahnya adalah motif kita.
Gideon: Dari Dipakai Tuhan, Lalu Dikuasai Ego
Gideon pernah dipakai Tuhan dengan luar biasa.
Namun di Hakim-hakim 8, kita melihat sisi lain yang tidak nyaman.
Ia lelah.
Ia ditolak.
Dan penolakan itu membuka apa yang selama ini tersembunyi:
ego yang ingin dihargai.
Ketika Sukot dan Pnuel tidak menolong,
Gideon tidak berkata,
“Tidak apa-apa, Tuhan menyertai.”
Ia berkata,
“Aku akan balas.”
Dan ia benar-benar melakukannya.
Ini bukan lagi iman.
Ini luka yang dibungkus pembenaran.
Agama yang Tampak Baik, Tapi Hatinya Masih Hitung-hitungan
Ini yang paling berbahaya:
kita bisa tetap terlihat rohani
sambil hati kita tetap duniawi.
Kita bisa melayani…
tapi tersinggung ketika tidak dihargai.
Kita bisa memberi…
tapi kecewa ketika tidak diakui.
Kita bisa berbuat baik…
tapi marah ketika tidak dibalas.
Dan kita menyebut itu “iman.”
Padahal itu hanya ego yang diberi label rohani.
Yesus Datang untuk Menghancurkan Sistem Itu
Yesus tidak datang untuk membuat kita “lebih baik sedikit”.
Ia datang untuk membongkar sistem lama kita.
Dunia berkata:
“Balas sesuai perbuatan.”
Yesus berkata:
“Kasihilah mereka yang tidak membalas.”
Dunia berkata:
“Berbuat baik supaya dihargai.”
Yesus berkata:
“Berilah tanpa berharap kembali.”
Ini bukan logika manusia.
Ini Injil.
Kasih yang Sejati Itu Menyakitkan Ego
Kasih yang sejati tidak selalu nyaman.
Karena ia memaksa kita:
- memberi tanpa dihargai
- mengasihi tanpa dibalas
- tetap baik ketika diperlakukan tidak baik
Dan itu menyakitkan—
bukan di luar,
tetapi di dalam.
Apakah kita benar-benar mengasihi?
Atau kita hanya ingin dianggap baik?
Kalau kebaikan kita berhenti saat tidak dihargai,
itu bukan kasih.
Itu kontrak yang gagal.
Kasih sejati tidak menuntut balasan—
karena ia tidak pernah dimulai dari manusia,
melainkan dari Tuhan.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)
