PusakaIlahi.com
Renungan dari Mazmur 63
“Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” (Mazmur 63:4)
Ada masa dalam hidup ketika langkah tidak lagi secepat dulu.
Tenaga tidak lagi sekuat dahulu.
Hari-hari terasa lebih sunyi…
dan terkadang, hati mulai bertanya:
“Masih adakah arti dalam sisa hidupku?”
Tidak sedikit orang merasa bahwa ketika usia bertambah,
makna hidup perlahan berkurang.
Kesibukan yang dulu memenuhi hari sudah berlalu.
Tanggung jawab yang dulu dipegang kini telah dilepaskan.
Bahkan orang-orang yang dahulu dekat, satu per satu mulai pergi.
Dan dalam keheningan itu,
ada rasa sepi yang sulit dijelaskan.
Namun Mazmur 63 membawa kita pada penghiburan yang dalam.
Pemazmur tidak menulis dari tempat yang nyaman.
Ia berada di padang gurun—tempat yang sunyi, kering, dan seolah tidak memberi harapan.
Namun justru di sana ia berkata:
“Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup.”
Ini bukan sekadar kata-kata.
Ini adalah pengalaman.
Kasih yang Tidak Pernah Meninggalkan
Manusia bisa berubah.
Keadaan bisa berganti.
Kekuatan bisa melemah.
Namun satu hal tidak pernah berubah:
kasih setia Tuhan.
Ia tidak berkurang karena usia kita bertambah.
Ia tidak menjauh ketika kita merasa sendiri.
Ia tidak berhenti ketika dunia terasa sunyi.
Justru di saat kita merasa paling lemah,
kasih-Nya semakin nyata menopang.
Tuhan Tetap Memegang Tangan Kita
Mungkin sekarang langkah kita lebih pelan.
Namun tangan Tuhan tidak pernah lepas.
Ia yang memimpin kita di masa muda,
tetap menggenggam kita di masa tua.
Ia tidak pernah berkata,
“Sekarang engkau sendiri.”
Sebaliknya, Ia tetap berkata:
“Aku menyertai engkau.”
Dan itu cukup.
Hidup Tidak Kehilangan Makna
Makna hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita lakukan,
tetapi oleh seberapa dekat kita dengan Tuhan.
Di usia senja, mungkin kita tidak lagi melakukan banyak hal.
Namun kita masih bisa:
- berdoa
- mengasihi
- menjadi teladan
- dan memegahkan Tuhan melalui hidup yang setia
Dan semua itu sangat berarti di mata Tuhan.
Sukacita yang Tidak Bergantung pada Keadaan
Ada sukacita yang tidak berasal dari dunia.
Sukacita yang tidak tergantung pada keadaan.
Sukacita itu lahir dari kesadaran bahwa:
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Dan selama kita masih bersama Dia,
hidup ini tetap berharga.
Jika hari ini terasa sepi,
ingatlah—kita tidak pernah benar-benar sendiri.
Jika hati mulai lelah,
ingatlah—kasih setia Tuhan tidak pernah habis.
Dan jika hidup terasa menurun,
ingatlah—Tuhan tetap memegang kita dengan setia.
Di setiap musim kehidupan, termasuk di usia senja,
kasih setia Tuhan tetap menjadi alasan kita untuk hidup—dan bersukacita.
(Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.)


