PusakaIlahi.com
Yohanes 20:30–31
Ada satu jebakan halus dalam kehidupan rohani:
kita merasa sudah dekat dengan Tuhan…
padahal kita hanya dekat dengan pengetahuan tentang Tuhan.
Kita membaca Alkitab,
mendengar khotbah,
bahkan bisa menjelaskan ayat.
Namun pertanyaannya sederhana:
apakah kita benar-benar percaya?
Alkitab Bukan Buku Jawaban untuk Semua Hal
Yohanes dengan jujur menyatakan:
tidak semua yang Yesus lakukan dicatat.
Ini penting secara teologis.
Artinya, Alkitab bukan ensiklopedia yang menjawab semua rasa ingin tahu manusia.
Alkitab adalah wahyu yang berpusat pada satu tujuan:
membawa manusia kepada iman kepada Kristus.
Tuhan tidak sedang berusaha memuaskan rasa ingin tahu kita,
tetapi menyelamatkan hidup kita.
Fokus Injil: Siapa Yesus, Bukan Sekadar Apa yang Ia Lakukan
Mukjizat Yesus luar biasa.
Tanda-tanda-Nya menakjubkan.
Namun Yohanes tidak menulis Injil untuk membuat kita kagum pada mujizat,
melainkan untuk membawa kita kepada pengakuan:
Yesus adalah Mesias, Anak Allah.
Jika kita hanya berhenti pada kekaguman,
kita belum sampai pada iman.
Iman: Lebih dari Sekadar Setuju
“Injil ini ditulis supaya kamu percaya.”
Dalam teologi Kristen, percaya bukan hanya:
- tahu
- setuju
- mengakui secara lisan
Tetapi percaya adalah:
- menyerahkan hidup
- bergantung kepada Kristus
- hidup dalam relasi dengan-Nya
Iman bukan sekadar informasi di kepala,
tetapi transformasi dalam hidup.
Hidup Kekal Dimulai Sekarang, Bukan Nanti
Yohanes menegaskan:
melalui iman, kita memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Ini berarti hidup kekal bukan hanya soal masa depan,
tetapi realitas yang dimulai sekarang.
Hidup yang:
- dipulihkan
- diarahkan
- diubahkan
Hidup yang tidak lagi kosong,
karena berpusat pada Kristus.
Masalah Besar Zaman Ini: Firman Jadi Konsumsi, Bukan Komitmen
Hari ini, firman Tuhan mudah diakses di mana-mana.
Namun ada bahaya besar:
Kita mengonsumsi firman…
tanpa komitmen untuk hidup di dalamnya.
Kita mendengar…
tanpa berubah.
Kita tahu…
tanpa percaya sungguh-sungguh.
Padahal firman Tuhan bukan untuk dinikmati,
tetapi untuk ditaati.
Refleksi: Kita Mengenal atau Sekadar Mengetahui?
Mari jujur pada diri sendiri:
Apakah kita hanya tahu tentang Yesus?
Atau benar-benar mengenal Dia?
Apakah kita membaca Injil untuk menambah wawasan?
Atau untuk mengalami perjumpaan?
Karena ada perbedaan besar antara:
- mengetahui tentang Tuhan
- dan berjalan bersama Tuhan
Injil Selalu Menuntut Respons
Setiap kali Injil diberitakan,
kita tidak pernah netral.
Kita sedang dihadapkan pada pilihan:
- percaya
- atau menolak
Tidak ada posisi tengah.
Karena Injil bukan sekadar informasi—
Injil adalah undangan keselamatan.
Jangan Berhenti di Pengetahuan
Yohanes tidak menulis agar kita menjadi pintar.
Ia menulis agar kita percaya.
Dan melalui iman itu,
kita memperoleh hidup yang sejati.
Masalahnya bukan kita tidak tahu firman—
tetapi apakah kita sungguh hidup di dalamnya.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
